RADAR SURABAYA BISNIS - Harga komoditas telur ayam mengalami kenaikan di pasaran dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga rata-rata telur ayam di Jawa Timur Rp 25.165 untuk setiap kilogram (kg).
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Lumajang Rp 27.333 dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Trenggalek Rp 23.000. Sementara di pasar-pasar Surabaya, berada pada kisaran Rp 26.000 – Rp 27.000 per kg.
“Sudah beberapa hari ini harga (telur, Red) naik. Biasanya Rp 24 ribu atau mentok di Rp 25 ribu. Ini tadi sudah dapat harga Rp 26 ribu per kilo,” ungkap Khusnul, seorang pedagang warung makanan yang dijumpai di Pasar Rungkut, Rabu (27/11).
Khusnul bercerita, biasanya kalua ia membeli minimal 10 kilo telur maka akan mendapatkan harga yang lebih murah. Tapi, kali ini diskon harga itu tidak berlaku. “Tadi beli 20 kilo harganya tetap di Rp 26 ribu per kilo,” ujarnya.
Hal yang sama juga dialami Nurhayati. Waktu berbelanja di Kawasan Pasar Pabean Cantian, pedagang pracangan ini mengaku mendapatkan harga terlur ayam yang sudah mengalami kenaikan.
“Per kilonya naik Rp 1.000, lumayan untuk pedagangan kelonting seperti kit aini,” ujarnya
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun mengatakan harga telur ayam yang berlaku saat ini masih di angka wajar.
"Harga segitu masih wajar, karena hukum pasar jika omzet turun maka margin lebih (harga naik)," ujar Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun kepada Radar Surabaya, Rabu (27/11).
Namun hal tersebut, lanjut Rofi, tidak sama dengan di peternakan. Menurutnya sejak dua hari lalu harga telur di kandang Rp 21.600 per kilogram.
"Bahkan selama tujuh bulan harga telur ayam stagnan pada harga Rp 22.000. Ini disebabkan perekonomian lesu. Harapan kami setelah Presiden (Prabowo Subianto, Red) dilantik, permintaan terhadap telur meningkat," katanya.
Rofi menambahkan terkait menyambut Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, peternak sudah menambah populasi ayam petelur sebanyak 10 persen.
"Namun hingga saat ini permintaan belum naik bahkan harga juga belum naik. Seharusnya 30 hari sebelum Nataru sudah ada pergerakan harga dan permintaan," katanya. Harapan kami Januari bisa naik karena adanya program Makan Bergizi Gratis," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa