SURABAYA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, industri alas kaki dalam negeri tetap mampu mencatatkan kinerja positif.
Hingga triwulan II tahun 2024, kinerja industri alas kaki nasional mampu tumbuh sebesar 3,92 persen dibanding tahun yang lalu pada periode yang sama.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Riefky Yuswandi saat membuka kegiatan Indonesia Footwear Creative Competition (IFCC) 2024 di Universitas Ciputra Surabaya, Sabtu (21/9).
Menurutnya jika lihat dari data World Footwear Yearbook 2023, disebutkan bahwa Indonesia merupakan lima besar negara produsen alas kaki di dunia.
Dimana tahun 2023 Indonesia telah memproduksi 807 juta pasang alas kaki yang digunakan secara global.
“Dari 807 juta pasang tersebut, sekitar 445 juta pasang diekspor. Artinya, ada 55,4 persen produksi alas kaki Indonesia dijual di mancanegara. Ini menunjukkan bahwa produktivitas dan kemampuan tenaga kerja serta industri kita cukup diperhitungkan di tingkat global,” jelasnya.
Riefky meyakini ekspor alas kaki pada tahun tahun 2024 akan lebih tinggi dibanding realisasi ekspor alas kaki pada 2023 yang mencapai USD 6,4 miliar.
“Karena kalau melihat ekspor dalam satu semester dari Januari hingga Juni sudah mencapai USD 3,7 miliar. Harapan kami di semester selanjutnya akan tetap terjaga dan semakin besar,” jelasnya.
Menurutnya selain pasar ekspor yang kian besar, potensi pasar dalam negeri juga sangat menjanjikan dan belum tergarap maksimal.
Hal ini terlihat dari jumlah pasang alas kaki yang diserap pasar dalam negeri yang hanya mencapai 362 juta pasang.
“Kalau dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 282 juta jiwa, maka berarti satu orang hanya membeli satu hingga dua pasang,” ujarnya.
Padahal, kata Riefky, saat ini setiap orang rata-raya memiliki dua alas kaki.
“Ini adalah pasar yang harus digarap. Ini adalah cuan dan untuk merebutnya harus berinovasi dan eksekusi. Kami melihat potensi produk dalam negeri cukup besar. Jika pasar dalam negeri dimaksimalkan, maka konsumsi alas kaki nasional dipastikan akan mengalami kenaikan dari saat ini yang hanya sebesar 1,28 pasang per orang per tahun. Kalau sampai dua unit per tahun pasti akan sangat besar pertumbuhannya,” paparnya.
Dengan besarnya potensi tersebut, Kementerian Perindustrian membuat beberapa program fokus pada industri kecil dan menengah (IKM).
Ada beberapa program yang bisa diakses, salah satunya adalah program restrukturisasi permesinan.
Melalui program ini pengusaha memiliki kesempatan reimbursement harga mesin sebesar 25 persen untuk mesin impor dan sebesar 40 persen untuk mesin lokal, sehingga reimbursement ini akan jadi modal kerja.
Di tempat yang sama, Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka, Syukur Idayati menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan kinerja industri alas kaki dalam negeri, termasuk dengan meningkatkan kualitas dan mendorong inovasi.
Ia menegaskan, BPIPI secara konsisten menyelenggarakan Indonesia Footwear Creative Competition (IFCC) setiap tahun, bekerja sama dengan perguruan tinggi sebagai ruang kolaborasi antara profesi desainer, fotografer, dan videografer dengan industri alas kaki.
Jika IFCC tahun lalu BPIPI bekerjasama dengan Universitas Kristen Petra, maka di tahun ini BPIPI bekerja sama dengan Universitas Ciputra. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa