SURABAYA - Jawa Timur dan Indonesia Timur memiliki potensi yang beragam.
Termasuk dalam hal komoditas maupun produk unggulan daerah yang memperlihatkan keunggulan ekonomi yang signifikan dan daya saing di pasar domestik maupun internasional.
Namun masih ada tantangan, yakni terkait distribusi yang kurang optimal dan pencatatan yang belum akurat.
Hal tersebuit disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin Indonesia Sarman Simanjorang dalam kegiatan Forum Bisnis Daerah (Forbisda) di Surabaya, Rabu (19/9).
Diketahui kegiatan ini bertujuan meningkatkan kolaborasi dan sinergi antar daerah dalam mengembangkan produk unggulan, serta menciptakan stabilitas harga dan ketahanan pangan melalui arus pendistribusian barang yang efektif dan efisien, khususnya di wilayah Indonesia bagian Timur.
“Forum Bisnis Daerah berfokus untuk meningkatkan ekonomi daerah Indonesia Timur dengan mempertemukan para kepala daerah untuk bisa saling bertukar informasi terkait produk unggulan masing-masing yang bisa diperdagangkan satu sama lain. Selain itu, mempertemukan kepala daerah dengan sektor usaha untuk mendorong penyerapan komoditas daerah,” katanya.
Diketahui kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama antara Kadin dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pangan Nasional.
Menurutnya Indonesia Timur memiliki potensi perdagangan yang besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukan wilayah Indonesia Timur menyumbang sebesar 20 persen dari total perdagangan antar pulau di Indonesia.
“Maka, Forbisda ini nantinya akan menghasilkan kerangka kerja kerja sama antar daerah untuk pengembangan produk, rencana pendistribusian barang yang efektif dan efisien, serta peningkatan kolaborasi antar pelaku bisnis di Indonesia Timur,” ujarnya.
Sarman menambahkan Indonesia bagian Timur memiliki potensi yang beragam.
Termasuk dalam hal komoditas maupun produk unggulan daerah yang memperlihatkan keunggulan ekonomi yang signifikan dan daya saing di pasar domestik maupun internasional.
“Sebagai induk organisasi usaha nasional, kami melihat terdapat berbagai potensi produk-produk unggulan Jawa Timur dan Indonesia Timur yang senantiasa perlu untuk ditingkatkan secara optimal. Maka, tantangan terkait distribusi yang kurang optimal dan pencatatan yang belum akurat perlu untuk diselesaikan bersama,” jelasnya.
Menurutnya tantangan ini menimbulkan hambatan bagi keterbukaan perdagangan antar wilayah.
Antara lain kesulitan memantau perjalanan produk, penimbunan barang, ketidakpastian harga, dan distribusi yang tidak efisien.
Ketidakakuratan pencatatan juga menghambat identifikasi potensi pasar, analisis tren permintaan, dan evaluasi program.
Berdasarkan data BPS 2022, Kabupaten Jember menghasilkan produk unggulan berupa tembakau 139.521 ton, Kabupaten Buru (Maluku) menghasilkan 2.850 ton kakao, dan Kabupaten Nabire (Papua) 142.885 ton kelapa sawit.
Kemudian, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghasilkan 474,007.67 ton, dan Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghasilkan kopi sebanyak 9,581 ton.
Mewakili Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Moga Simatupang mengatakan kebutuhan perdagangan antar daerah masih perlu ditingkatkan dengan optimal agar dapat menjaga stabilitas harga dan berkontribusi pada ketahanan pangan.
Maka, saat ini penting untuk mendorong kolaborasi antar pemangku kepentingan demi meningkatkan perdagangan antar daerah yang efisien.
“Kami mengapresiasi inistiatif Kadin Indonesia, Apkasi, dan Badan Pangan Nasional dalam meningkatkan sinergi dan perdagangan antardaerah melalui Forum Bisnis Daerah ini. Diharapkan forum ini dapat memaksimalkan koordinasi antara pemerintah dengan dunia usaha agar meningkatkan perdagangan antar wilayah sesuai dengan potensi maupun produk unggulan masing-masing sehingga menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa