SURABAYA - Industri baja nasional masih fokus pada market domestik meskipun kondisi ekonomi masih melambat.
Hal ini karena pasar ekspor terutama ke Amerika, Eropa dan Australia selain harus bersaing ketat dengan China, juga ada kebijakan bea masuk anti dumping sehingga menggerus margin.
Hadi Sutjipto, Direktur PT Gunawan Dian Jaya Steel Tbk (GDST) menjelaskan, potensi pasar ekspor sebenarnya cukup besar terutama ke Amerika, Eropa dan Australia.
Namun di sana menerapkan kebijakan anti dumping, sehingga sulit bersaing dan marginnya juga sangat tipis.
“Karena itu, kami hanya ekspor ke Malaysia dan Singapura yang merupakan traditional market kami. Setiap bulan selalu ada demand. Sementara ke Eropa, AS dan Australia kendalanya ada bea masuk anti dumping. Kami mencoba tapi harus bayar lawyer sendiri. Dan biaya lawyer lebih tinggi daripada untungnya,” kata Hadi Sutjipto usai Public Expose, Selasa (10/9).
Sebab itu, pihaknya hingga saat ini masih fokus di pasar domestik.
Sekitar 96 persen dari total produksi untuk memenuhi kebutuhan market nasional.
Dia yakin kondisi ekonomi akan semakin baik kedepan sehingga demand plate baja juga akan naik baik untuk infrstruktur, industry kapal dan lainnya.
Selain itu, emiten berkode GDST ini juga fokus menyelesaikan plate mill 2 yang menelan dana Rp 1,3 triliun.
Diharapkan pada November 2024 nanti sudah bisa hot trial dan Desember 2024 sudah bisa trial penuh sebelum masuk commercial operational pada awal tahun 2025.
“Mengapa Plate Mill 2 harus kami selesaikan meskipun Plate Mill 1 sebenarnya cukup kapasitanya. Karena kita ini melayani job order. Jadi ketika ada pesanan yang ukurannya tidak bisa kami penuhi akan lari ke pabrik lain. Dan itu besar potensinya. Dengan beroperasinya PM 2 nanti, maka semua pesanan akan bisa kami penuhi mulai yang ukuran kecil hingga yang besar,” ujarnya.
Terkait kinerja 2024, dia yakin tahun ini mampu meraih penjualan Rp 2,5 triliun dengan laba bersih Rp 125 miliar.
Hingga 31 Juli 2024, pihaknya berhasil membukukan penjualan Rp 1,7 triliun dengan laba bersih Rp 99 miliar atau turun 37 persen dibanding tahun lalu periode yang sama yakni Rp 159,4 miliar.
“Penurunan ini akibat turunya harga jual plate baja. Namun disisi lain bahan baku justru naik akibat kenaikan kurs dolar AS. Kendati begitu, kami optimis tahun ini target akan terpenuhi,” tambahnya.
Sementara itu, Andy Soesanto, Direktur PT Betonjaya Manunggal Tbk, mengatakan, pihaknya juga terimbas akibat melemahnya ekonomi di dalam negeri.
Hal ini karena sektor properti yang merupakan market utama perseroan dan juga infrastruktur mengalami pelambatan.
Hal ini terihat dari pencapaian penjualan hingga Juli 2024 dimana emiten berkode BTON ini meraih pendapatan Rp 75 miliar atau turun 7,5 persen dibanding tahun lalu periode yang sama yakni Rp 81,1 miliar.
Namun begitu pihaknya justru mencatat kenaikan laba bersih yang cukup fantastic, yakni naik 921 persen. Dari semula rugi Rp 3,2 miliar, menjadi untung Rp 26,6 miliar.
Keuntungan ini murni dari selisih kurs dari modal perseroan yang ditempatkan di bank.
“Kami masih optimis tahun ini penjualan bisa mencapai Rp 135 miliar dengan laba bersih 3-5 persen dari penjualan. Kami akan terus melakukan pengembangan pasar dan menjaga hubungan baik dengan pasar eksisting. Tahun depan, kami yakin kondisinya akan lebih baik setelah beroperasinya plate mill 2 GDS. Karena bahan baku kami murni dari waste plate GDS sehingga kami tidak khawatir lagi pasokan bahan bakunya,” pungkas Andy Soesanto. (fix/opi)
Editor : Nofilawati Anisa