SURABAYA - Sejak dua tahun terakhir pengaruh cuaca sangat mendukung untuk budidaya tembakau di Jawa Timur.
Bahkan petani di Jawa Timur menganggap dua tahun ini mengalami reborn harga tembakau.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur K Mudi, Selasa (10/9).
"Memang tahun ini belum semua terdata, karena ada yang baru panen dan bahkan ada yang belum panen. Meski demikian sudah terlihat produksi tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya," ujarnya.
Mudi menambahkan peningkatan tidak hanya terjadi pada jumlah hasil produksi, akan tetapi harga tembakau juga mengalami kenaikan.
"Untuk tahun ini, harga daun bawah tembakau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," terangnya.
Lebih lanjut Mudi mengatakan beberapa daerah ada yang menjadi penghasil tembakau meski bukan sentra karena areanya kecil.
"Untuk Gresik dan Bangkalan menjadi sentra baru penghasil tembakau. Ini tentu berdampak pada kesejahteraan petani, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT). Ini tentu menjadi nilai tambah," terangnya.
Meski demikian Mudi mengaku ada hal yang mengganggu petani tembakau.
Yakni PP 28 tahun 2024 dan Rancangan Peraturan Menteri Keuangan.
"Ini bisa mengganggu stabilitas harga tingkat petani. Karena perusahaan atau industri tembakau akan melakukan koreksi harga, belum lagi bayang-bayang naiknya harga cukai tahun 2025 mendatang," jelasnya.
"Alhamdulillah dua tahun ini industri tembakau membeli hasil produksi petani dengan harga yang wajar sehingga kami masih untung. Kami berharap agar petani dan industri terus bersinergi," imbuhnya.
Menurutnya budidaya tembakau ini mengalami kendala sejak tahun 2023, yakni sejak dicabutnya Permentan yang mengatur pupuk subsidi.
"Jadi kita tidak boleh menggunakan pupuk subsidi. Kalau menggunakan pupuk non subsidi harganya selangit. Kalau panen harga tinggi kita untung, kalau tidak ya buntung," ungkapnya.
Sementara itu Kepala Bidang Pembangunan Sumber Daya Industri Dinas Perkebunan Jatim Heri Wiriantoro mengatakan pihaknya terus memperhatikan produksi tembakau petani.
"Jangan sampai kuantitas meningkat tapi kualitas turun. Ini akan berdampak pada harga. Kualitas juga harus turun. Kami memiliki tata niaga mulai hulu hingga hilir," katanya.
Menurutnya Industri Hasil Tembakau (IHT) di Jatim paling besar di Indonesia. Bahkan Jatim juga penghasil Cukai Hasil Tembakau (CHT) terbesar nasional.
"Tahun 2022 CHT Nasional Rp 218,6 Triliun. Dari jumlah itu Rp 133,7 triliun atau 60 persennya dari Jawa Timur. Kemudian tahun 2023 CHT Nasional Rp 213,48 triliun. Dari jumlah itu Rp 129,98 triliun. Meskipun turun, tapi masih jadi penyumbang tertinggi," ungkapnya.
Dari data Dinas Perkebunan Jawa Timur harga tembakau rajang kasar Bondowoso mulai Rp 50.000 - Rp 60.000.
Kemudian jenis virginia Bojonegoro Rp 35.000 - Rp 55.000, jenis rajangan gula Jombang Rp 57.000.
Untuk Madura, harga tembakau Rp 80.000, Pacitan Rp 38.000 dan Ngawi Rp 45.000. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa