SURABAYA - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis, (5/9) waktu setempat.
Harga minyak AS turun karena OPEC+ menunda rencana untuk meningkatkan produksi setelah harga minyak berjangka anjlok tajam pada pekan ini.
Malansir laman CNBC, OPEC+ telah menunda kenaikan produksi sebesar 180.000 barel per hari selama dua bulan.
Peningkatan produksi itu awalnya dijadwalkan pada Oktober tahun ini.
"Ada sejumlah faktor yang benar-benar merugikan OPEC selama beberapa bulan ke depan,” ujar President of Lipow Oil Associates, Andy Lipow, Jumat (6/9).
Ia menambahkan, OPEC ingin melihat harga minyak mentah Brent pada posisi USD 85 - USD 90 per barel untuk menyeimbangkan anggarannya.
Harga energi juga mendapatkan sentimen dari persediaan minyak mentah AS turun hampir 7 juta barel untuk pekan yang berakhir 30 Agustus.
Harga ini berdasarkan data Badan Informasi Energi atau the Energy Information Administration. Sementara stok bensin naik 800.000 barel.
Seperti diketahui, harga minyak acuan AS telah turun sekitar 6 persen pekan ini, sementara itu harga minyak Brent merosot 7,8 persen. Harga minyak berjangka telah merosot pada 2024.
Aksi jual dipicu oleh kekhawatiran kalau lebih banyak pasokan akan datang pada saat permintaan akan melemah.
“Permintaan minyak sedang goyah di China, dan di sini di Amerika Serikat musim mengemudi telah berakhir,” ujar Lipow.
Ia menambahkan, saat ini pelaku pasar menghadapi permintaan yang lebih rendah, sejauh menyangkut konsumen dan untuk melengkapinya memasuki periode pemeliharaan penyulingan musiman di Amerika Serikat dan Eropa.
Hal ini akan menurunkan permintaan minyak mentah.
Sebelumnya, minyak mentah AS turun lebih dari 1 persen, Rabu (4/9).
Jatuh di bawah USD 70 per barel dan memunculkan spekulasi bahwa OPEC+ dapat menunda peningkatan produksi minyak yang dijadwalkan dimulai bulan depan.
Patokan minyak mentah AS mencapai level terendah sesi di USD 68,83.
Angka ini termasuk level terendah sejak 13 Desember 2023, setelah anjlok lebih dari 4 persen, Selasa (3/9).
Minyak mentah AS dan patokan global Brent telah menghapus semua keuntungan untuk 2024.
"Dengan pertumbuhan permintaan yang tidak pasti dan gangguan pasokan signifikan tampaknya tidak mungkin terjadi, semua mata kembali tertuju pada OPEC+," kata Svetlana Tretyakova, analis senior di Rystad Energy, dalam sebuah catatan pada hari Rabu.
"Sampai OPEC+ memperjelas strateginya, sentimen bearish secara keseluruhan akan tetap ada," imbuhnya.
Sementara itu, OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak pada bulan Oktober, dan kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan politik di Libya dapat mengakhiri gangguan pasokan dari negara Afrika Utara tersebut.
Laporan, Jumat (6/9), menunjukkan bahwa delapan anggota OPEC+ masih berencana untuk meningkatkan produksi sebesar 180.000 barel per hari pada bulan Oktober, tetapi kelompok tersebut telah menjelaskan pada bulan Juni bahwa keputusan tersebut dapat dibalik tergantung pada kondisi pasar.
"Reaksi pasar terhadap cerita-cerita pasokan ini menunjukkan betapa lemahnya sentimen di pasar minyak saat ini," kata Giovanni Staunovo, seorang ahli strategi di UBS, kepada kliennya dalam sebuah catatan. (uta/opi)
Editor : Nofilawati Anisa