SURABAYA - Ketua Dewan Kopi Jawa Timur KH Muhammad Zakki membenarkan sejak enam bulan terakhir harga biji kopi jenis robusta di Jawa Timur mengalami kenaikan.
Di tingkat petani harga biji kopi mencapai Rp 75.000 per kilogram (kg).
Untuk jenis arabika tetap pada angka Rp 120.000 per kg.
"Tentunya ini meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari sektor kopi. Produksi tahun ini pun juga mengalami peningkatan. Permintaan dari luar negeri juga meningkat sehingga petani harus bisa mengelola dengan baik tanaman kopi agar bisa meningkatkan produksinya," ungkap Zakki, Selasa (3/9).
Dari data yang diperoleh Radar Surabaya Bisnis, harga grosir kopi robusta naik 17 persen selama April.
Harga kopi diprediksi masih akan terus mengalami kenaikan hingga pertengahan 2025.
Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya mengatakan, luas areal perkebunan kopi di Jawa Timur sebanyak 115.921 hektare dengan jumlah panen 72.825 ton.
Terdiri dari perkebunan besar negara seluas 21.203 hektare dengan produksi 14.579 ton, perkebunan besar swasta seluas 19.399 hektare dengan produksi 13.371 ton, dan perkebunan rakyat seluas 75.319 hektare dengan jumlah produksi 44.879 ton.
"Terdiri dari kopi robusta seluas 86.695 hektare dan arabika seluas 29.226 hektare. Untuk total produksi mencapai 72.825 ton, terdiri dari arabika sebanyak 15.433 ton, robusta sebanyak 57.393 ton. Ini data tahun 2023 dan yang tahun 2024 belum ada," jelas Rudy.
Meski demikian Rudy meyakini ada peningkatan produksi tahun ini dan harga pun ikut naik.
Dikatakannya, tahun 2022 harga kopi robusta Rp 24.000 per kg untuk green bean.
"Nah tahun 2023 mulai naik dan sampai tahun 2024 ini pernah mencapai Rp 80.000 hingga Rp 85.000 per kilogram untuk yang premium," katanya.
Rudy mengatakan luas area kopi Jawa Timur cenderung bertambah dari tahun 2020 hingga 2022.
Tahun 2020, luas areal kopi mencapai 112.338 hektare. Kemudian bertambah pada tahun 2021 menjadi 113.330 hektare, dan bertambah kembali pada tahun 2022 menjadi 116.160 hektare.
"Namun pada tahun 2023 luas areal kopi berkurang menjadi 115.921 hektare. Ada penurunan 239 hektare. Hal ini dikarenakan alih fungsi lahan. Perkebunan kopi milik petani beralih menjadi komoditas lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi, seperti tebu," katanya.
Kedua, karena penurunan kualitas tanah. Menurutnya pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah yang menyebabkan turunnya produktivitas.
"Beberapa tanah yang tidak produktif di area Jawa Timur ditinggalkan begitu saja sehingga banyak perkebunan kopi milik rakyat terbengkalai," ungkapnya.
Ketiga, lanjut Rudy, masalah penyakit dan hama. Menurutnya, hama dan penyakit tanaman kopi yang sulit dikendalikan dapat mengurangi hasil panen dan menyebabkan petani kehilangan minat dalam merawat tanaman kopi.
"Meskipun terdapat tantangan yang dihadapi petani kopi dalam produksi kopi Jawa Timur, namun produksi kopi dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Hal ini dikarenakan adanya perbaikan teknik budidaya. Adopsi teknologi pertanian modern dan praktik budidaya yang lebih baik, seperti pemupukan yang efisien, pengendalian hama yang lebih efektif, dan penggunaan varietas kopi unggul, dapat meningkatkan hasil panen dan kualitas kopi," terangnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa