Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

7 Ribu Hektare Sawah di Jatim Gagal Panen Gara-Gara Kekeringan, Ini Upaya Pemprov Jatim Mengatasinya

Mus Purmadani • Kamis, 8 Agustus 2024 | 19:53 WIB
DOK. RADAR BANYUWANGI Ilustrasi kekeringan di sejumlah wilayah di Jawa Timur hingga menyebabkan puso.
DOK. RADAR BANYUWANGI Ilustrasi kekeringan di sejumlah wilayah di Jawa Timur hingga menyebabkan puso.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Kekeringan akibat kemarau yang melanda berbagai daerah cukup berdampak pada sektor pertanian, salah satunya di Jawa Timur (Jatim).

Akibat kekeringan di beberapa daerah di Jatim, banyak tanaman pertanian puso atau gagal panen.

“Hingga Selasa (6/8), untuk tanaman padi, total areal terkena adalah seluas 31.588,94 hektare dengan puso seluas 7.666,80 hektare,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya kepada Radar Surabaya, Rabu (7/8).

Daerah yang terkena dampak paling luas akibat kekeringan terjadi di Kabupaten Lamongan seluas 11.736,0 hektare dengan puso 5.335,50 hektare.

Kemudian Kabupaten Gresik seluas 5.954,5 hektare dengan puso 1.477 hektare, Kabupaten Pacitan seluas 5.785,50 hektare tidak terjadi puso.

Selanjutnya Kabupaten Bojonegoro seluas 5.713,0 hektare dengan puso 92 hektare, dan Kabupaten Tuban seluas 1.089,4 hektare dengan puso seluas 239,40 hektare.

Kemudian Kabupaten Nganjuk seluas 698,0 hektare dengan puso 204 hektare, Kabupaten Mojokerto seluas 268,5 hektare dengan puso 257,5 hektare dan Kabupaten Jombang seluas 130 hektare dengan puso 20 hektare.

Untuk tanaman Jagung, total areal terkena adalah seluas 2.431,50 hektare dengan puso 2,00 hektare.

Daerah terdampak terluas terjadi di kabupaten Tuban seluas 2.286 hektare, Lamongan seluas 84,5 hektare dengan puso 2,00 hektare, Bojonegoro 20 hektar, Trenggalek 18 hektare dan Pacitan 17 hektare.

“Untuk tanaman kedelai, total area terkena seluas 42 hektare terjadi di kabupaten Pacitan,” jelasnya

Untuk mengatasi kekeringan, Pemprov Jatim melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dalam rangka memaksimalkan capaian target luas tanam mata tanam April-September 2024 yang telah ditetapkan di seluruh Kabupaten/Kota dengan menyusun agenda gerakan percepatan olah tanah dan percepatan tanam. Kemudian optimalisasi jaringan irigasi.

“Dengan optimalisasi jaringan irigasi diharapkan debit air sampai kepertanaman dengan baik sehingga tanaman dapat berproduksi lebih maksimal. Selain itu juga dilaksanakan peningkatan debit air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier,” katanya.

Pengembangan irigasi pompa baik bantuan pemerintah maupun swadaya, pembuatan embung, serta mendorong perpompaan melalui sumur submersible secara swadaya oleh petani.

Kemudian melakukan budidaya tanaman sesuai iklim dan kondisi setempat, antara lain dengan menggunakan benih unggul bersertifikat dan memilih varietas umur pendek, tahan hama dan penyakit dan toleran terhadap kekeringan serta mengintensifkan monitoring, evaluasi dan pelaporan secara rutin terhadap perkembangan luas serangan hama dan penyakit tumbuhan dan dampak kekeringan.

“Selain itu optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian. Dengan semakin berkurangnya tenaga kerja/buruh tani disektor pertanian maka solusinya adalah dengan pemanfaan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mengolah lahan, menanam, memanen yang lebih efektif dan efisien terutama dalam mempercepat waktu penyiapan lahan, penyiapan tanam serta menekan kehilangan hasil dan bahkan dapat memproses lebih lanjut menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Kemudian menerapkan pola tanam dengan pergiliran padi ke tanaman palawija (jagung, kacang hijau, kedelai) atau tanaman lain yang memungkinkan sesuai dengan keadaan spesifik lokasi.

“Pemanfaatan Asuransi Usahatani Pangan (AUTP). Sehubungan dengan tidak menentunya musim/cuaca saat ini maka diharapkan para petani padi mengikuti AUTP, sehingga saat terkena bencana alam kekeringan/banjir/serangan hama dan penyakit masih bisa melanjutkan usaha taninya dengan memanfaatkan klaim yang diperoleh untuk kembali bercocok tanam,” pungkasnya.

Dengan berbagai program dan Upaya tersebut diharapkan dampak kekeringan di Jatim dapat dikurangi dan meminimalisir gagal panen. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Tanaman pertanian #jawa timur #gagal panen #puso #kemarau #sawah #kekeringan