SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Pemintaan bahan baku susu sapi segar untuk industri pengolahan mengalami peningkatan.
Kebutuhan hariannya yakni mencapai 2.000 ton. Akan tetapi produksi susu segar dari Jatim hanya mampu memasok 1.200 ton per hari.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani mengatakan, pihaknya berencana mengembangkan peternakan sapi perah di wilayah Banyuwangi hingga Bondowoso.
“Ini untuk memenuhi industri pengolahan susu yang ada di Jatim seperti Nestle, Indolakto dan Greenfield," ujarnya, Minggu (4/8).
Indy menambahkan, pengembangan peternakan di Banyuwangi dan Bondowoso juga ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan susu segar di wilayah Indonesia Timur dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Populasi sapi perah kita sebelum dilanda PMK (penyakit mulut dan kuku, Red) sebanyak 300 ribuan kemudian turun menjadi 282 ribuan setelah PMK," katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Jatim menjadi pemasok utama susu segar di Indonesia, yakni mencapai presentase 56 persen secara nasional.
Diketahui populasi sapi perah di Jatim mencapai 282.364 ekor dari total 507.075 ekor sapi perah nasional pada tahun 2022.
Sedangkan kebutuhan Industri pengolahan susu yang ada di Jatim membutuhkan bahan baku berupa susu segar 2.000 ton per hari.
"Sehingga, industri tersebut mengalami defisit sekitar 800 ton per hari," katanya.
Lebih lanjut Indy mengatakan, dengan adanya kondisi ini yang menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk berinvestasi di bidang peternakan sapi perah di Jatim.
"Infrastruktur dan sumber daya manusia di Jatim sudah sangat memadai untuk mendukung pengembangan ini. Peternak sapi perah di Jatim juga memiliki kapabilitas yang tinggi, serta kondisi geografis Banyuwangi yang berada di ketinggian cocok untuk sapi perah," ungkap Indy.
"Jadi sangat tepat untuk sapi perah yang mana betah dan kerasan di wilayah dengan meter di atas permukaan laut (mdpl) tinggi," imbuhnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari