Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ini yang Menjadi Penyebab Jebloknya PMI Manufaktur

Nurista Purnamasari • Jumat, 2 Agustus 2024 | 15:06 WIB
TERKONTRAKSI: Untuk mengembalikan nilai PMI manufaktur dibutuhkan sinergi antar kementerian dan lembaga.
TERKONTRAKSI: Untuk mengembalikan nilai PMI manufaktur dibutuhkan sinergi antar kementerian dan lembaga.

JAKARTA (Radar Surabaya Bisnis) - Untuk mengembalikan nilai Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia, yang pada Juli 2024 terkontraksi ke angka 49,3 poin dibutuhkan sinergi kebijakan antarkementerian dan lembaga.

"Kemenperin tidak bisa sendiri dalam hal ini. Menjaga kinerja sektor manufaktur, bukan saja untuk mempertahankan agar nilai tambah tetap dihasilkan di dalam negeri, namun juga melindungi tersedianya lapangan kerja bagi rakyat Indonesia," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Kamis (1/8).

Menurut Agus, menurunnya angka PMI manufaktur pada Juli sebesar 1,4 poin secara bulanan (month to month) diperkirakan karena kebijakan relaksasi impor yang diberlakukan.

Kondisi menurunnya PMI manufaktur ini terjadi berturut-turut pada Mei-Juli 2024 bila dibandingkan dengan PMI manufaktur April 2024 yang sebelum pemberlakuan relaksasi impor, dengan nilai yakni pada April mencapai 52,9.

Kemudian turun menjadi 52,1 pada Mei, lalu menjadi 50,7 pada Juni, dan turun kembali 49,3 di Juli.

"Posisi sektor manufaktur sudah sangat sulit karena kondisi global, termasuk logistik, sangat tidak menguntungkan bagi sektor ini. Oleh sebab itu, para menteri jangan mengeluarkan kebijakan yang justru semakin membunuh industri," katanya.

Dalam rilisan PMI manufaktur, Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence Paul Smith menyampaikan, pelambatan pasar secara umum mendorong penurunan marginal pada kondisi pengoperasian selama bulan Juli, dengan permintaan baru berkurang dan produksi turun untuk pertama kali dalam dua tahun.

Hal itu membuat produsen menjadi lebih waspada dengan sedikit mengurangi aktivitas pembelian, serta pihaknya mencatat ketenagakerjaan menurun cukup tinggi sejak September 2021.

Meski demikian, menurutnya, ada harapan sektor manufaktur akan segera kembali tumbuh dan bangkit.

"Ada harapan bahwa sektor akan segera kembali bertumbuh, dengan perusahaan sangat percaya diri sejak Februari di tengah harapan bahwa penjualan dan kondisi pasar akan membaik pada tahun mendatang," katanya.

Kemenperin pun dengan menggandeng sejumlah kementerian dan lembaga akan berupaya untuk mengembalikan nilai PMI manufaktur sekaligus untuk menjaga perekonomian tetap stabil. (ant/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#relaksasi impor #PMI Manufaktur #lapangan kerja #industri #kemenperin #agus gumiwang