JAKARTA (Radar Surabaya Bisnis) - Didukung gaya hidup, promosi, dan perkembangan teknologi mendorong potensi bisnis kosmetik di Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM menyebut nilai pasar kosmetik lokal mencapai Rp 130 triliun.
Menurut Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM Irwan, industri kosmetik merupakan industri manufaktur yang memberi kontribusi signifkan ke pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Jumlah industri kosmetik mengalami peningkatan signifikan. Tahun 2021, ada 891 industri, sementara saat ini kurang lebih 1.100 industri kosmetik. Sangat besar perkembangannya," katanya, dikutip Jumat (26/7).
Peningkatan jumlah industri ini didominasi produk kosmetik lokal yang kian bermunculan.
Untuk diketahui, produk kosmetik lokal yang mengantongi izin muat edar dan terdaftar di BPOM sudah mencapai 506 ribu.
Menurut Irwan, hal ini menunjukkan, permintaan masyarakat akan kosmetik dalam negeri tetap eksis dan tumbuh.
"Ada peningkatan setiap tahun karena permintaan masyarakat akan produk kosmetik," ujar dia.
Seiring banyaknya pelaku usaha kosmetik lokal yang baru, Irwan mengatakan, nilai pasar kosmetik pun kian naik.
"Berdasarkan data yang diperoleh, nilai pasarnya Rp 130 triliun," bebernya.
Potensi ini tentu perlu dukungan bersama. Baik dari pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat.
Mulai mengawal keamanan produk, dampak kemanfaatan produk, hingga perkembangan industrinya itu sendiri.
"Kami menyadari, industri kosmetik bisa berkembang jika produknya terjamin aman, sesuai kebutuhan dan bermutu. Karena itu, BPOM akan selalu melakukan pengawalan," ujar Irwan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, tren penggunaan produk lokal juga menjadi indikasi meningkatnya kualitas produk yang mampu bersaing dengan berbagai brand dari luar negeri.
Pertumbuhan fenomenal industri kosmetik di Indonesia juga tercermin dari pertumbuhan jumlah industri kosmetik di Tanah Air yang mencapai 21,9 persen, dari 913 perusahaan per 2022 menjadi 1.010 perusahaan pada pertengahan 2023.
Industri kosmetik nasional juga mampu menembus pasar ekspor di mana secara kumulatif untuk periode Januari-November 2023 nilai ekspor untuk produk kosmetik, wewangian, dan essential oils tercatat mencapai USD 770,8 juta.
“Dengan komposisi 95 persen industri kosmetik lokal merupakan industri kecil dan menengah, industri ini tercatat mampu menyerap tenaga kerja sekitar 59.886 orang pada tahun 2022,” tutur Airlangga.
Dari sederet produk kosmetik yang muncul di Indonesia, segmen pasar terbesar didominasi segmen perawatan diri (personal care) dengan volume pasar sebesar USD 3,18 miliar pada 2022, disusul skincare sebesar USD 2,05 miliar, kosmetik USD 1,61 miliar, dan wewangian USD 39 juta.
Potensi market size secara nasional pada tahun 2023 bisa mencapai 467.919 produk atau meningkat lebih dari 10 kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
“Secara global diperkirakan dapat mencapai USD 473,21 miliar pada tahun 2028 dengan pertumbuhan rata-rata 5,5 persen per tahun,” lanjutnya.
Lebih lanjut, penjualan produk personal care (sabun dan sampo) dan kosmetik mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir ini di tengah masifnya perkembangan e-commerce di Indonesia. (bis/nur)
Editor : Nurista Purnamasari