SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Setelah konsumsi, diurutan kedua penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Jawa Timur (Jatim) adalah investasi.
Menurut Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, satu persen peningkatan angka investasi di Jatim akan memberikan kontribusi sekitar 0,3 persen terhadap pertumbuhanPDRB. Investasi merupakan kontributor terbesar kedua setelah konsumsi.
Kepala Perwakilan BI Jatim Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, dalam kondisi perekonomian global ke depan masih diliputi ketidakpastian, orientasi mesin pendorong perekonomian ini kembali ke perekonomian domestik.
"Jadi ada sekitar 27 persen kontribusi investasi terhadap PDRB Jatim," katanya saat menggelar East Java Investment Dialogue (EJID) bersama Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Rabu (17/7).
EJID merupakan kick off menjelang penyelenggaraan Road to East Java Investment Forum (EJIF) 2024 pada Oktober mendatang.
Lebih lanjut Erwin menuturkan, forum ini diselenggarakan sebagai wujud kegiatan untuk meningkatkan angka investasi di Jatim sebagai provinsi yang cukup besar kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.
"Terima kasih Pemprov Jatim, dalam hal ini DPMPTSP yang telah memberikan dukungan, bersama-sama mendorong dan bersinergi meningkatkan angka investasi untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat Jatim," tuturnya.
Menurut Erwin, investasi tidak bisa dilakukan secara one shot. "Harus dikawal. Dengan DPMPTSP kami melakukan kurasi proyek-proyek yang ready to offer. Hari ini akan ada one on one meeting, pendalaman dari calon investor dengan project owner, untuk masuk ke diskusi yang lebih lanjut sehingga harapannya di Bulan Oktober ada Memorandum of Understanding (MoU), Letter of Intent (LoI) untuk realisasi investasi," jelasnya.
Secara keseluruhan, proyek-proyek yang ditawarkan kali ini meliputi energi, manufaktur, pariwisata dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) setidaknya JIIPE dan Singhasari.
”Secara total dari beberapa project yang ready to offer angkanya sekitar Rp 40 triliun yang hari ini peluang investasinya kita buka,” ungkap Erwin.
Sementara itu, Pj. Gubernur Jatim Adhy Karyono optimistis, peluang calon investor asing untuk berinvestasi di Jatim semakin banyak.
Keyaninan tersebut bukan tanpa sebab. Pasalnya, realisasi investasi Jatim di triwulan I tahun 2024 tercatat meningkat hingga 20,7 persen dengan kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) yang cukup signifikan.
"Realisasi investasi triwulan I year on year (yoy) tahun 2024 meningkat sebesar 20,7 persen yang mana kontribusi realisasi penanaman modal asing menyumbang 16,1 persen," kata Adhy dalam sambutannya
"Investasi di Jatim memiliki peluang bagus dan mereka akan diberikan layanan yang sangat baik agar semua keperluan berinvestasi bisa dipenuhi. Terima kasih Bank Indonesia perwakilan Jatim yang menginisiasi untuk meningkatkan nilai investasi di Jatim," ungkapnya.
Secara keseluruhan, Adhy optimistis peluang menarik calon investor di Jatim semakin terbuka lebar.
Tidak sekadar PMA yang meningkat, melainkan pertumbuhan ekonomi yang terus menunjukkan trend positif sebesar 4,8 persen.
Selain itu, inflasi juga terus terjaga per Juni 2024 sebesar 25 persen plus minus 1 persen, serta nilai investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menunjukkan kenaikan sebesar 20,1 persen.
"Hal ini semakin menunjukkan bahwa potensi untuk berinvestasi di Jatim semakin baik. Termasuk menurunnya angka kemiskinan sebesar 0,56 persen poin serta meningkatnya angka wisatawan sebesar 31,45 juta kunjungan periode Januari-Juni 2024, semakin membuka peluang calon investor berinvestasi di Jatim," jelasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari