SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Untuk mendukung penggunaan energi hijau di kawasan industri, PT Utomodeck Metal Works melakukan kerja sama strategis dengan PT Kawasan Industri Gresik (KIG).
Dalam kerja sama tersebut, pihak PT Utomodeck Metal Works diwakili Darmawan Utomo selaku komisaris dan pihak KIG diwakili Direktur Utama, Setyo Nugroho Haribowo.
Direktur Utama KIG, Setyo Nugroho menjelaskan, kerja sama ini tidak hanya dalam rangka hubungan bisnis saja.
Namun lebih dari itu adalah mewujudkan Indonesia menuju green industry.
“Kapasitasnya 100 megawatt (MW). Ini bukan hanya untuk KIG saja, namun juga untuk kawasan industri Tuban, Semen Indonesia Group dan Petrokimia Group. Tapi tahap awal mungkin baru 10 persennya dulu dan terus berkembang hingga lima tahun ke depan,” kata Setyo, Kamis (27/6).
Selain PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), dalam kerja sama tersebut juga menyangkut penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
Unit SPKLU ini akan dibangun di kawasan KIG. SPKLU ini nantinya diutamakan untuk tenant KIG selain masyarakat.
“Utomodeck punya kapabilitas yang tidak diragukan. Karena sudah banyak anggota HKII (Himpunan Kawasan Industri Indonesia) yang sudah bekerja sama. Kami sebagai anggota HKII tertarik untuk menjalin kerja sama ini,” tambahnya.
Sementara itu, Anthony Utomo, Managing Director PT Utomodeck menambahkan, kerja sama dengan KIG ini merupakan upaya untuk mengurangi karbon yang dikeluarkan dari pabrikan (dekarbonisasi).
“Dengan layanan ini, KIG bisa menjadi altenatif. Ini ikhtiar menuju low carbon industrial estate,” papar Antony.
Dia mengaku untuk kerja sama ini, investasi yang dikeluarkan tidak sedikit yakni Rp 300 miliar.
Namun nantinya, selain tenant di KIG juga masyarakat yang akan ikut merasakan manfaatnya. Sebab, saat ini di Gresik belum ada SPKLU ultra fast.
“SPKLU yang kami bangun nanti jadi yang pertama kali yang ultra fast di Gresik. Hal ini akan mendorong masyarakat menggunakan kendaraan listrik karena sudah ada SPKLU-nya,” katanya.
Dia mengaku, kerja sama dengan KIG selain penuh tantangan juga membuka peluang besar.
Sebab saat ini KIG seluas 140 hektare sudah sold out. Dan kebetulan industri yang ada di KIG termasuk boros energi dan penghasil karbon luar biasa.
Karena itu, ini opportunity yang tepat. Apalagi, saa ini di Jatim potensi green energy cukup besar yakni 2 gigawatt (GW), namun baru terpakai 28 megawatt (MW).
Jadi potensinya masih sangat besar. Namun harus melihat juga daya belinya.
“Di Indonesia industri hijau memang belum menjadi mainstream. Mereka harus di-support menuju indusri hijau. Di KIG, kami akan hadirkan itu. Kami sudah jajaki beberapa tenant untuk masuk KIG,” pungkas Anthony. (fix/nur)
Editor : Nurista Purnamasari