GRESIK (Radar Surabaya Bisnis) - Smelter tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berlokasi di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Manyar, Gresik, Jawa Timur akhirnya resmi beroperasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama beberapa menteri dan pejabat setempat meresmikan smelter berkapasitas input 1,7 juta ton konsentrat tembaga tersebut.
Dalam sambutannya, Airlangga mengaku bangga karena proyek smelter PTFI di Gresik bisa selesai sesuai dengan waktu yang telah ditargetkan oleh pemerintah.
Bahkan, Airlangga meyakini jika Smelter PTFI ke depan akan menjadi pabrik yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional ditengah penggunaan renewable energy (energi terbarukan) mulai menjadi tren dunia.
"Copper merupakan bagian dari perubahan energi ke depan. Jadi kita harus bangga proyek extraordinary ini berhasil dalam kurun waktu yang sangat tepat. Ini sangat hebat," tegas Airlangga.
Menurut Airlangga, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mulai membahas program hilirisasi nasional pada era tahun 2000-an silam.
Namun baru pada tahun 2004 terbentuklah Undang-undang (UU) Minerba yang mengatur tentang hilirisasi.
Meski demikian, aturan tersebut tidak bisa direalisasikan secara langsung karena berbagai kendala yang dihadapi oleh pemerintah.
Barulah pada periode Presiden Joko Widodo, pemerintah secara tegas menjalankan produk UU Minerba sebagai salah satu strategi dalam penguatan perekonomian nasional.
"Proyek Smelter PTFI merupakan sebuah legacy dari Presiden Joko Widodo dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dimata dunia serta mendorong pertumbuhan di dalam negeri. Kami berharap nanti bulan Agustus atau September proyek ini bisa diresmikan oleh pak presiden disaat kegiatan operasi dan produksi sudah berjalan," imbuhnya.
Beroprasinya Smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik ini akan mendorong hadirnya industri berbasis produk yang dihasilkan PTFI.
Seperti industri baterai, kabel maupun power generation. Dirincikan, saat ini tercatat ada sejumlah industri yang telah melakukan kontruksi di KEK Gresik.
Hadirnya industri baru di kota santri ini tentu tidak hanya berdampak besar pada tersedianya lapangan pekerjaan, melainkan juga memberikan kontribusi pendapatan kepada negara dan daerah maupun mendorong aktivitas pelaku usaha masyarakat lokal.
"Banyaknya industri baru yang membangun di Gresik juga harus kita manfaatkan sebagai penguatan aktivitas ekspor. Nantinya Smelter ini juga akan menghasilkan perak dan emas yang royaltinya menjadi pendapatan bagi Negara,” terangnya.
“Dengan pertumbuhan ekspor ini diharapkan bisa membuat rupiah semakin stabil. Jadi penguatan dollar harus dimanfaatkan untuk penguatan ekspor," tandasnya.
Ditempat yang sama, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia mengungkapkan jika pembangunan proyek Smelter PTFI di Gresik merupakan perkara yang tidak gampang.
Bahkan saat awal perencanaan muncul beragam dinamika agar proyek ini digeser ke Maluku Utara atau Papua.
Namun pemerintah bersama PTFI melakukan berbagai kajian dan melihat dari beragamaspek sehingga diputuskan proyek ini dibangun di Gresik.
"Proyek ini sangat luar biasa, saat kita putuskan untuk dibangun ternyata Pandemi Covid 19 datang. Namun pemerintah dan manajemen bertekad untuk mewujudkan komitmen hilirisasi sehingga hari ini proyek bisa selesai. Saya ucapkan selamat kepada PTFI," ungkap Bahlil.
Dia menuturkan, hilirisasi Copper merupakan bagian dari instrumen pemerintah dalam rangka mewujudkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Bahlil optimistis jika nanti pabrik smelter PTFI beroperasi maka Indonesia telah memiliki bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi kendaraan listrik.
"Kalau mau Smelter ini berjalan baik PTFI agar terus melibatkan pengusaha lokal dalam operasinya. Tadi saya sudah dapat laporan jika UMKM di sini terlibat aktif, ini harus terus dijaga," tutur Bahlil.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas menyampaikan, pembangunan proyek Smelter Gresik cukup challenging (menantang).
Meski demikian, manajemen memiliki komitmen penuh dalam menyelesaikan proyek ini tepat waktu.
"Sejak groundbreaking kami tidak pernah menemui masalah. Masyarakat Gresik juga mendukung penuh proyek ini. Untuk itu, saya ucapkan terimakasih kepada pemerintah daerah sehingga proyek ini bisa selesai secara ontime sesuai dengan kurva yang disepakati bersama kementrian ESDM," ujar Tony.
Smelter Gresik merupakan pabrik pemurnian tembaga kedua yang dimiliki PTFI.
Sebelumnya PTFI bekerja sama dengan Mitsubishi Materials membangun PT Smelting yang telah beroprasi sejak 1990.
Nantinya produk yang dihasilkan dari Smelter Gresik terdiri dari 650 ton katoda tembaga, 60 ton emas dan 220 perak pertahun. (fir/nur)
Editor : Nurista Purnamasari