Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ini Penyebab Anjloknya Kinerja Ekspor Jatim Bulan April

Mus Purmadani • Jumat, 21 Juni 2024 | 16:16 WIB
MENURUN: Ada beberapa komoditas yang menjadi penyebab turunnya kinerja ekspor Jatim bulan April.
MENURUN: Ada beberapa komoditas yang menjadi penyebab turunnya kinerja ekspor Jatim bulan April.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat kinerja ekspor non migas dari Jawa Timur (Jatim) pada April 2024 mencapai USD 1,74 miliar atau anjlok -29,04 persen dibandingkan Maret 2024 yang mencapai USD 2,45 miliar.

Meski begitu, kinerja ekspor April 2024 ini masih terbilang tumbuh jika dibandingkan April tahun lalu yang hanya mencapai sebesar USD 1,34 miliar.

Kepala BPS Jatim, Zulkipli menjelaskan turunnya kinerja ekspor non migas ini juga sejalan dengan kondisi beberapa mitra dagang utama Jatim seperti Tiongkok, India dan Thailand yang mengalami penurunan nilai manufacturing (PMI).

“Sedangkan negara mitra dagang utama Jatim seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang mengalami peningkatan nilai manufacturing PMI,” katanya, Kamis (20/6).

Berdasarkan sektor usaha, nilai ekspor non migas Jatim yang mengalami penurunan bulanan (m-to-m) yakni sektor pertanian turun -24,05 persen, industri pengolahan turun 29,16 persen, serta pertambangan dan lainnya turun sebesar -50,10 persen.

Ia memaparkan, ada tiga komoditas utama yang mengalami penurunan permintaan pasar luar negeri pada April lalu, di antaranya yakni perhiasan/permata terealisasi USD 462,2 juta atau turun tajam dibanding Maret 2024 yang mencapai USD 853,42 juta.

“Kontribusi perhiasan/permata ini mencapai 26,55 persen dari total ekpor non migas, dengan negara tujuan utama ke Jepang (32,23 persen), dan Swiss (28,36 persen),” paparnya.

Selanjutnya, komoditas tembaga berkontribusi sebesar 9,69 persen terhadap total ekspor non migas, dengan nilai ekspor mencapai USD 168,66 juta atau turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD 185 juta.

Negara tujuan utama komoditas tembaga ini adalah Vietnam (24,55 persen) dan Malaysia (24,52 persen).

“Sementara untuk komoditas kayu dan barang dari kayu berkontribusi 5,68 persen, dengan nilai ekspor pada April USD 98,90 juta atau turun dibandingkan Maret yang mampu mencapai USD 134,65 juta. Komoditas ini paling banyak dikirim ke AS (21,88 persen) dan Jepang (19,53 persen),” imbuhnya.

Adapun di sepanjang Januari - April 2024, kinerja ekspor non migas Jatim telah terealisasi sebanyak USD 7,81 miliar.

Ekspor barang non migas Jatim ini dikontribusi oleh pasar Jepang senilai USD 1,04 miliar, disusul AS USD 1 miliar, Tiongkok USD 0,90 miliar, dan Swiss USD 0,69 miliar.

Sedangkan negara-negara di kawasan Asean USD 1,45 miliar dan Uni Eropa USD 0,49 miliar.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim, Isdarmawan Asrikan mengatakan, meski pasar ekspor masih menghadapi tantangan geopolitik, tetapi pengusaha ekspor masih optimistis bisa mengejar pertumbuhan ekspor yang positif sampai akhir tahun nanti.

“Kita di GPEI terus berusaha untuk meningkatkan ekspor, terutama dari pelaku usaha kecil menengah agar mencari pasar non tradisional. Jadi Pasar ekspor masih menjanjikan karena negara-negara Asia yang ongkos kirimnya tidak terlalu mahal, dan di sana juga banyak diaspora dan tenaga kerja kita di luar negeri yang terbiasa pakai produk-produk Indonesia,” katanya. (mus/nur) 

Editor : Nurista Purnamasari
#jawa timur #mitra dagang #BPS Jatim #ekspor non migas #Ekspor Jatim