Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Memadai, Persediaan Beras di Bulog Jatim Capai 194.842 Ton

Mus Purmadani • Rabu, 19 Juni 2024 | 14:05 WIB
DIOPTIMALKAN: Bulog Jatim terus meningkatkan serapan beras lokal untuk memperkuat cadangan.
DIOPTIMALKAN: Bulog Jatim terus meningkatkan serapan beras lokal untuk memperkuat cadangan.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Tahun ini Bulog Jawa Timur (Jatim) menargetkan serapan beras sebanyak 135.000 ton, yang terbagi dalam dua saluran yakni, komersial dan public service obligation (PSO).

Hingga saat ini total penyerapan beras sebesar 90.381 ton. Sehingga total persediaan beras di Bulog Jatim saat ini mencapai 194.842 ton.

"Untuk PSO atau Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ini targetnya 100.000 ton, sedangkan yang komersial targetnya 35.000 ton," jelas Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Timur Awaludin Iqbal, Selasa (18/6).

Menurutnya, realisasi hingga saat ini untuk CBP 70.000 ton, sedangkan komersial 11.000 ton.

Iqbal menambahkan, stok beras Bulog bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan Jawa Timur tapi juga wilayah lain atau movement nasional (movenas).

"Jadi movenas ini adalah untuk yang wilayah defisit beras," katanya.

Lebih lanjut Iqbal menuturkan, pihaknya memiliki program mitra tani yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dengan meningkatkan produktivitas.

Harapannya dengan produktivitas meningkat juga mendapatkan income yang bertambah.

"Dengan meningkatnya produktivitas diharapkan juga bisa kita serap sehingga cadangan beras bisa lebih. Program ini sudah berjalan di Banyuwangi, Jember dan Nganjuk," terangnya.

Menurut Iqbal, program mitra tani ini ada dua jenis. Yakni mitra tani mandiri dan mitra tani kerja sama sinergis.

Untuk yang mandiri, lahan dan yang mengerjakan petani, sedangkan bibitnya dari Bulog, nanti hasilnya pembagian keuntungan.

“Kalau untuk yang kerja sama sinergis melibatkan pihak ketiga bisa dengan BUMN atau swasta, sedangkan Bulog berperan sebagai offtaker (penjamin pasar) artinya kita beli hasil produknya baik dengan harga pasar maupun dengan harga pemerintah," ungkapnya.

Saat ditanya terkait naiknya Harga Eceran Tertinggi (HET) beras dan gabah kering panen (GKP) apakah berpengaruh dengan serapan Bulog, Iqbal mengatakan hal tersebut menyesuaikan.

Seperti diketahui, pemerintah saat ini memberlakukan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 167 Tahun 2024 tentang Fleksibilitas Harga Pembelian Gabah dan Beras Dalam Rangka Penyelenggaraan Cadangan Beras Pemerintah.

Aturan ini menaikkan harga beli gabah/beras yang akan digunakan Perum Bulog saat menyerap produksi petani di dalam negeri untuk pengadaan CBP.

HPP ini menjadi acuan yang bisa mempengaruhi pergerakan harga gabah di pasar.

Dengan ketentuan terbaru ini, harga GKP di tingkat petani yang dalam aturan HPP sebelumnya Rp 5.000 per kg naik menjadi Rp 6.000 per kg.

Lalu harga gabah kering giling (GKG) di gudang Bulog yang sebelumnya Rp 6.300 per kg, kini dibanderol naik menjadi Rp 7.400 per kg.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menerbitkan peraturan anyar HET beras melalui Peraturan Bapanas (Perbadan) Nomor 5 Tahun 2024.

Dalam Perbadan Nomor 5 Tahun 2024, besaran HET beras diatur berdasarkan wilayah.

Untuk wilayah Jawa, Lampung, dan Sumatera Selatan, HET beras medium adalah Rp 12.500 per kg dan HET beras premium Rp 14.900 per kg.

Kemudian, untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Kepulauan Bangka Belitung, HET beras medium Rp 13.100 per kg dan HET beras premium Rp 15.400 per kg. (mus/nur) 

Editor : Nurista Purnamasari
#cadangan beras pemerintah #petani #serapan beras #Bulog Jatim