Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Puluhan Ribu Hektare Lahan Padi di Jatim Kekeringan, Ini Upaya Mengatasinya

Mus Purmadani • Senin, 17 Juni 2024 | 18:34 WIB
Perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi keekringan di lahan pertanian di Jatim.
Perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi keekringan di lahan pertanian di Jatim.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Musim kemarau nampaknya sudah membawa dampak terhadap pertanian di Jawa Timur (Jatim).

Dampak pada musim kemarau tersebut membuat puluhan ribu hektare lahan padi di Jatim mengalami kekeringan.

Hingga 16 Juni 2024, 25.930,53 hektare lahan tanaman padi di Jatim terdampak kekeringan.

"Dari jumlah itu, seluas 194,50 hektare tanaman padi mengalami puso (gagal panen)," jelas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya kepada Radar Surabaya, Minggu (16/6).

Rudy menambahkan, daerah terdampak paling luas terjadi di Kabupaten Lamongan, yakni seluas 9.877 hektare dengan puso seluas 192 hektare.

Kemudian Kabupaten Pacitan seluas 5.782 hektare, Kabupaten Bojonegoro seluas 5.168 hektare, Kabupaten Gresik seluas 3.855 hektare, Kabupaten Magetan seluas 23,8 hektare dan Kabupaten Tuban seluas 1.089 hektare. Puso juga terjadi di kabupaten Magetan seluas 2,5 hektare.

Untuk tanaman jagung, lanjut Rudy, total areal terdampak kekeringan adalah seluas 2.413,50 hektare dengan puso seluas 11 hektare.

Daerah terdampak terluas terjadi di kabupaten Tuban seluas 2.276 hektare, Kabupaten Lamongan seluas 34 hektare, Kabupaten Magetan 32 hektare, Kabupaten Bojonegoro 20 hektare dan Trenggalek 18 hektare.

"Puso juga terjadi di kabupaten Magetan seluas 10 hektare dari areal terkena 32 hektare dan Banyuwangi seluar 1 hektare dari areal terkena 8 hektare," ungkapnya.

Lebih lanjut Rudy mengatakan, untuk tanaman kedelai, total area terdampak seluas 42 hektare terjadi di kabupaten Pacitan. Menurutnya untuk tanaman kedelai tidak ada puso.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur menyiapkan sejumlah langkah untuk nenanggulangi kekeringan pada musim kemarau 2024.

Yang pertama, melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dalam rangka memaksimalkan capaian target luas tanam masa tanam (MT) April -September 2024 yang telah ditetapkan di seluruh Kabupaten/Kota dengan menyusun agenda gerakan percepatan olah tanah dan percepatan tanam.

Kedua, optimalisasi jaringan irigasi. Dengan optimalisasi jaringan irigasi diharapkan debit air sampai kepertanaman dengan baik sehingga tanaman dapat berproduksi lebih maksimal.

“Selain itu juga dilaksanakan peningkatan debit air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pengembangan irigasi pompa, pembuatan embung, serta mendorong perpompaan melalui sumur submersible secara swadaya oleh petani," terangnya.

Ketiga, lanjut Rudy, melakukan budidaya tanaman sesuai iklim dan kondisi setempat, antara lain dengan menggunakan benih unggul bersertifikat dan memilih varietas umur pendek, tahan hama dan penyakit dan toleran terhadap kekeringan.

Serta mengintensifkan monitoring, evaluasi dan pelaporan secara rutin terhadap perkembangan luas serangan hama dan penyakit tumbuhan dan dampak kekeringan. Keempat, optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian.

Dengan semakin berkurangnya tenaga kerja/buruh tani disektor pertanian maka solusinya adalah dengan pemanfaan alat mesin pertanian (alsintan).

Fungsinya yakni untuk mengolah lahan, menanam, memanen yang lebih efektif dan efisien terutama dalam mempercepat waktu penyiapan lahan, penyiapan tanam serta menekan kehilangan hasil dan bahkan dapat memproses lebih lanjut menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Kelima, menerapkan pola tanam dengan pergiliran padi ke tanaman palawija (jagung, kacang hijau, kedelai) atau tanaman lain yang memungkinkan sesuai dengan keadaan spesifik lokasi.

Keenam, pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Pangan (AUTP). Sehubungan dengan tidak menentunya musim/cuaca saat ini maka diharapkan para petani padi mengikuti AUTP/

“Sehingga saat terkena bencana alam kekeringan/banjir/serangan hama dan penyakit masih bisa melanjutkan usaha taninya dengan memanfaatkan klaim yang diperoleh untuk kembali bercocok tanam," pungkasnya. (mus/nur) 

Editor : Nurista Purnamasari
#padi #jawa timur #musim kemarau #panen