SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - PT Suparma Tbk (SPMA) tetap optimistis penjualan tahun ini tetap akan tumbuh 17 persen dari tahun lalu meskipun dibayangi melambatnya ekonomi nasional.
Selain meningkatkan efisiensi juga memperluas market dengan merilis produk baru.
Hendro Luhur, Direktur PT Suparma Tbk menjelaskan, tahun ini pihaknya optimistis mampu memacu penjualan dengan pertumbuhan sekitar 17 persen dari tahun lalu dengan nilai Rp 3,1 triliun dan laba bersih sekitar Rp 279 miliar.
Sejak Januari – Mei 2024, pihaknya berhasil membukukan penjualan Rp 1,05 triliun atau setara dengan 33,9 persen dari target penjualan tahun ini.
Kuantitas penjualan sebesar 86.974 MT atau setara dengan 33,8 persen dari target kuantitas penjualan sebesar 257.517 MT.
“Untuk hasil produksi kertas Suparma periode lima bulan tahun 2024 sebesar 88.331 MT atau setara 33,7 pesen dari target produksi kertas tahun ini yakni 261.804 MT,” ujar Hendro, Jumat (14/6).
Untuk mencapai target tahun ini, pihaknya akan terus meningkatkan efisiensi dengan belanja modal (capex) sebesar USD 10 juta.
Dana tesebut digunakan untuk pembelian steam boiler baru yang lebih ramah lingkungan dibandingan steam boiler yang sudah ada.
Penggunaan bahan bakar batu bara 25 persen atau sekitar 60 pesen lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Sisanya memanfaatkan limbah plastik dan limbah kayu untuk diubah menjadi energi panas.
Steam boiler baru tersebut akan meningkatkan kapasitas keluaran steam untuk proses pengeringan kertas sebesar 16 persen dari semula 155 ton per hari menjadi 180 ton per hari.
“Hingga Mei 2024, capex sudah terserap USD 7,1 juta. Kami harapkan steam boiler baru tersebut akan beroperasi di triwulan IV tahun 2024. Awal tahun ini kami juga merilis produk baru kertas bungkus gajah bunga untuk segmen kafe dan warung-warung,” tambahnya.
Terkait kinerja tahun 2023, Hendro mengaku, turun signifikan akibat tekanan ekonomi global.
Sepanjang 2023 penjualan turun 15 persen dengan nilai Rp 2,65 triliun.
Hal ini akibat harga komoditas menurun sehingga harga jual rata-rata kertas Duplex Suparma menurun 30 persen.
“Padahal, produk ini berkontribusi sekitar 39 persen dari total penjualan kertas Suparma, namun kami masih membagikan dividen sebesar Rp 37,84 miliar atau setara 21 persen dari total laba perseroan tahun 2023” ujarnya.
Dikatakan Hendro, secara umum tahun 2023 harga jual rata-rata produk kertas Suparma mengalami penurunan sebesar 18,1 pesen dibandingkan harga jual rata-ratanya di tahun 2022.
Sehingga penjualan emiten berkode SPMA ini juga menurun 15,3 persen di 2023 dengan nilai Rp 2,658 triliun.
Sedangkan kuantitas penjualan produk kertas perseroan tahun 2023 masih bertumbuh sebesar 3,9 persen atau sebanyak 220,4 ribu MT. Sedangkan laba kotor turun sebesar 34,5 persen dari semula Rp 718,8 miliar di tahun 2022 menjadi Rp 470,6 miliar di tahun 2023.
Akibatnya, marjin laba kotor tahun 2023 mengalami penurunan menjadi 17,7 persen dari semula 22,9 persen di tahun 2022.
“Disisi lain, beban pokok operasional mengalami kenaikan yang menyebabkan laba tahun berjalan dan laba komprehensif tahun berjalan mengalami penurunan masing-masing 46,8 persen dan 47,7 persen menjadi sebesar Rp 178,7 miliar dan Rp 173,1 miliar,” pungkas Hendro. (fix/nur)
Editor : Nurista Purnamasari