Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Serap 37 Ribu Tenaga Kerja, Segini Nilai Investasi Industri Pengolahan Susu

Nurista Purnamasari • Senin, 27 Mei 2024 | 03:00 WIB
POTENSIAL: Perkembangan industry pengolahan susu dalam negeri cukup positif dengan peluang ekspor yang baik.
POTENSIAL: Perkembangan industry pengolahan susu dalam negeri cukup positif dengan peluang ekspor yang baik.

JAKARTA (Radar Surabaya Bisnis) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai perkembangan sektor pengolahan susu cukup baik.

“Untuk kapasitas total produksi mencapai 4,64 juta ton per tahun," ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, dikutip Minggu (26/5). 

Dengan total kapasitas produksi pengolahan susu tersebut, Indonesia mampu memasok 20 persen bahan baku susu. 

Adapun, produksi terbesar di industri pengolahan susu saat ini lebih banyak produsen susu cair dan krim dengan porsi 49 persen, susu kental manis 17 persen, dan susu bubuk 17,5 persen.

Sementara, produk unggulan ekspor yakni susu formula, makanan bayi, es krim, yogurt, susu bubuk, susu kental manis, serta susu cair dan krim.

Putu menilai sektor ini cukup berperan penting terhadap perekonomian nasional.

Adanya investasi baru di sektor industri pengolahan susu, khususnya produsen susu cair, menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku susu segar dari dalam negeri.

Terlebih, tren pasar mulai beralih dari susu bubuk dan kental manis menjadi susu cair (UHT dan pasteurisasi). 

Di samping itu, konsumsi susu masyarakat Indonesia dinilai berpeluang meningkat.

Saat ini, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia sebesar 16,9 kg per kapita per tahun setara susu segar. Kondisi ini perlu dibarengi dengan ketersediaan bahan baku.

Namun, hanya sekitar 20 persen bahan baku susu yang mampu di pasok dalam negeri.

Menurut Putu, hal ini lantaran laju pertumbuhan produksi susu segar sebesar 1 persen dalam enam tahun terakhir. 

"Sehingga tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu yang tumbuh rata-rata 53 persen," tuturnya. 

Untuk realisasi investasi industri pengolahan susu sendiri hingga tahun 2023 mencapai Rp 23,4 triliun dan telah menyerap 37 ribu tenaga kerja. 

Saat ini di Indonesia sudah ada 88 pabrik industri pengolahan susu dan turunannya.

Kendala utama dalam pengembangan produksi susu segar dalam negeri (SSDN) adalah minimnya populasi sapi perah di Indonesia (sekitar 592 ribu ekor).

Selain itu juga rendahnya produktivitas sapi perah rakyat (8-12 liter per ekor per hari), dan tingginya rasio biaya pakan dengan hasil produksi susu (0,5-0,6).

“Pengembangan produksi susu segar juga dihadapkan pada terbatasnya lahan untuk kandang dan pakan hijauan,” imbuhnya.

Selain itu, minimnya kepemilikan sapi perah peternak rakyat (2-3 ekor per peternak), biaya pembesaran (rearing) anakan sapi perah yang cukup mahal, kurangnya pemahaman peternak rakyat akan Good Dairy Farming Practices (GDFP), serta masih minimnya minat anak muda untuk menjadi peternak.

Dalam hal ini, dukungan kebijakan pemerintah diperlukan untuk berpihak kepada penanganan di sektor hulu baik koperasi susu dan peternak sapi perah. (bis/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#konsumsi susu #Susu Bubuk #susu kental manis #industri pengolahan susu #kementerian perindustrian #susu segar