SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Meskipun sudah mengalami penurunan, namun harga komoditas gula di pasaran masih tinggi.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui bahwa harga gula sudah mulai turun, namun belum stabil.
"Harga gula sempat Rp 20.000 per kilogram, kemudian turun Rp 19.000, dan sekarang Rp 18.000 per kilogram. Kita akan berupaya kejar sampai bisa Rp 16.000 per kilogram lagi," ujar Zulhas saat menghadiri sebuah acara di Surabaya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, tingginya harga gula ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga terjadi di pasar internasional. Ia berharap harga bisa turun dalam waktu dekat.
"Oleh karena itu, untuk menekan harga gula saat ini solusinya adalah mempercepat suplai gula di pasaran," jelasnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga rata-rata gula kristal putih di Jawa Timur Rp 17.365 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Pacitan Rp 18.500. Sedangkan harga rata-rata terendah di Kabupaten Mojokerto Rp 16.550.
Untuk harga rata-rata komoditas ini di sejumlah pasar Surabaya mulai Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kg.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menyebut, kenaikan harga gula di tingkat konsumen terjadi karena ketersediaannya yang kurang.
Selain itu juga karena pemerintah tidak memiliki stok atau cadangan gula nasional.
“Sehingga saat harga gula tengah bergejolak seperti saat ini, pemerintah tidak bisa melakukan intervensi harga," katanya.
Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah segera memiliki cadangan gula nasional melalui BUMN pangan, untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga gula ke depannya.
Ia menilai kebijakan relaksasi harga acuan pokok (HAP) kurang tepat dalam mengatasi permasalahan harga gula yang terjadi saat ini.
“Ini kelemahan kita, karena setiap kita impor kita ini tidak simpan stok untuk cadangan,” pungkasnya.
Berakaca dari kondisi tersebut diharapkan ke depan pemerintah lebih baik lagi dalam menetapkan tata kelola pergulaan. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari