SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Pada pertengahan bulan sampai dengan saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan mencapai Rp 16.250.
Kenaikan nilai tukar rupiah tersebut berpengaruh signifikan terhadap ekonomi nasional.
Salah satu dampaknya adalah pada hutang luar negeri yang menjadi lebih mahal untuk dibayar. Itu tentu berimbas pada penekanan APBN dan perusahaan swasta.
Di sektor keuangan, inflasi yang tinggi bisa memicu kenaikan suku bunga. Dampaknya, meningkatkan biaya modal bagi industri.
Pakar Ekonomi, Prof. Dr Rudi Purwono menilai pelemahan itu akan berdampak pada bidang impor dan utang luar negeri.
Seperti harga impor seperti minyak naik akan mempengaruhi kebijakan subsidi BBM.
"Jika subsidi tak ditingkatkan, harga BBM melonjak dan mendorong kenaikan biaya transportasi dan produk-produk yang menggunakan bahan bakar minyak lainnya," kata Prof Rudi, Senin (29/4).
Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu menjelaskan, kenaikan nilai mata uang melalui beberapa tahap, yakni melalui impor minyak.
Seperti yang kita ketahui Indonesia masih banyak mengimpor minyak dari luar negeri.
Kedua, melalui biaya bahan baku karena banyaknya industri yang mengimpor bahan baku.
“Ini menyebabkan biaya produksi meningkat. Yang pada akhirnya dapat menyebabkan kenaikan harga secara umum di pasar, yang dikenal sebagai inflasi,” paparnya.
“Dengan demikian, kenaikan nilai dolar dapat mempengaruhi inflasi dengan meningkatkan biaya impor, bahan baku, dan produksi,” imbuhnya.
Untuk mengatasi naiknya nilai dolar dan melindungi ekonomi domestik, Prof Rudi menyarankan agar pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi terus berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.
Kedua, pemerintah harus siap menghadapi perubahan harga minyak dengan menyesuaikan APBN.
Tak hanya itu, juga harus diperhatikan kondisi global yang mempengaruhi harga minyak dan nilai tukar.
Keempat, perempuan Indonesia perlu waspada dan berpartisipasi dalam menjaga nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi.
Kelima, bank sentral dan otoritas keuangan harus berperan aktif dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Fluktuasi nilai tukar antara dolar Amerika Serikat dan rupiah Indonesia memiliki dampak yang kompleks dan luas pada berbagai sektor ekonomi.
“Untuk menghadapi tantangan ini, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan sektor swasta diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kepentingan ekonomi domestik,” pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari