SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, luas tanam bawang merah pada Februari 2024 mencapai 4.845 hektare dengan jumlah produksi 40.422 ton dan konsumsi 10.893 ton, sehingga masih ada surplus 29.529 ton.
Kemudian Maret, luas panen mencapai 3.478 hektare dengan jumlah produksi 27.104 ton dan konsumsi 10.893 ton, sehingga surplus 16.211 ton.
Sedangkan luas panen pada bulan April berpotensi mencapai 5.086 hektare dengan jumlah produksi 48.885 ton dan konsumsi 10.893 ton, sehingga diperkirakan surplus 37.992 ton.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya mengatakan, meskipun terjadi penurunan luas panen dan produksi dibanding bulan sebelumnya, ketersediaan komoditas bawang merah pada bulan Maret surplus sebesar 16.211 ton.
“Sedangkan potensi bulan April berdasar pertanaman bulan sebelumnya diperkirakan surplus sebesar 37.992 ton,” katanya kepada Radar Surabaya, Jumat (26/4).
Akan tetapi, di tengah surplus produksi bawang merah di Jatim, harganya justru melonjak. Sudah sepekan terakhir harga bawang merah terus merangkak naik.
Bahkan saat ini, harga komoditas ini di sejumlah pasar di Jatim mencapai Rp 60.000 per kilogram (kg).
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga rata-rata bawang merah adalah Rp 48.928.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Pamekasan Rp 65.000. Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Probolinggo Rp 25.000.
Di sejumlah pasar besar di Surabaya, harga komoditas ini mencapai Rp 50.000 per kg.
Misalnya di Pasar Genteng, Pasar Keputran dan Pasar Pucanganom. Kemudian di Pasar Tambahrejo harganya Rp 54.000, Pasar Soponyono Rp 42.000 dan di Pasar Wonokromo Rp 47.000
Sementara itu, petani bawang Kecamatan Papar, Kediri mengatakan, kenaikan harga bawang merah ini merupakan hal biasa terjadi saat musim hujan.
Menurutnya, menanam bawang merah saat musim hujan lebih sulit dan berisiko.
“Tidak banyak petani yang berani menanam bawang merah saat musim hujan karena memang sulit dan membutuhkan ketelatenan,” ungkap Sutikno.
Sutikno menjelaskan, tanaman bawang merah idealnya ditanam saat musim kemarau.
Pada musim kemarau, tantangannya rentan terhadap hama ulat. “Kalau hama ulat bisa diatasi dengan menggunakan obat ulat,” jelasnya.
Jika menanam bawang merah saat musim hujan maka risikonya tidak umbi yang tidak bisa tumbuh maksimal.
“Biasanya umbi tidak mau beranak, sehingga berat produksinya tidak bisa maksimal,” jelasnya.
Menurut Sutikno, saat ini belum banyak petani bawang merah yang panen. Meskipun ada yang sudah panen, hasilnya belum bisa memuaskan karena curah hujan yang masih tinggi.
“Kami berharap harga jual bawang merah tetap tinggi. Hal itu karena perawatannya yang sulit,” katanya.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) membenarkan adanya tren kecenderungan harga bawang merah yang naik.
Tetapi pihaknya memastikan kenaikan tersebut masih mampu dikendalikan oleh pemerintah.
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, harga bawang merah sebelumnya jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 25 ribu-30 ribu per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi pada periode Januari hingga Maret 2024 di tingkat produsen.
Namun saat ini, menurutnya hujan sudah turun hingga mengerek naik harga bawang merah yang ada di pasaran.
Namun ia menegaskan pemerintah juga memiliki peran dalam menjaga harga di tingkat produsen agar petani tak merugi.
“Namun harapan kita bisa kendalikan harga. Sehingga sekali lagi posisi harga di produsen harus kita jaga jangan sampai di bawah harga acuan yang kita tetapkan,” katanya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari