SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Jawa Timur (Jatim) terus membuka diri dan potensi wilayahnya kepada investor baik dari dalam negeri maupun asing.
Hal ini terlihat dari banyaknya investor yang datang ke Jatim, khususnya lewat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk berdiskusi dan melihat potensi yang bisa dikerjasamakan.
Salah satu perusahaan Belanda yang bergerak di bidang pertanian, Foodventures melakukan kunjungan ke Kadin Jatim, Rabu (24/4).
Dalam kunjungannya, mereka menawarkan kerja sama bidang agriculture atau pertanian.
Business Development Southeast Asia Foodventures, Lennart Knot mengungkapkan bahwa Foodventures adalah salah satu perusahaan besar di Belanda yang sudah lama bergelut di bidang pertanian, khususnya greenhouse.
"Kami membawa teknologi pertanian, khususnya greenhouse farming yang sudah ada di Belanda hampir satu abad, ke berbagai negara lain yang belum memiliki ekosistem terkait dengan greenhouse farming,” ungkap Lennart Knot.
“Oleh karena itu perusahaan kami mulai dari Eropa timur, karena di sana belum ada," imbuhnya.
Saat ini, Foodventures telah memiliki proyek di 10 negara termasuk di Ukraina, Georgia, Kazakhstan, China, Amerika dan Swedia.
"Dan sekarang kami ingin berinvestasi di Asia Tenggara terutama di Indonesia. Indonesia menurut kami merupakan pasar yang paling besar dan paling cocok untuk proyek Foodventures," tandasnya.
Atas keinginan tersebut, Foodventures bersama GMBS Business Support tengah membuat visibility study untuk kemungkinan berinvestasi di Indonesia.
Kerja sama ini juga diharapkan terjadi transfer teknologi karena nantinya mereka akan menggunakan teknologi pertanian di Belanda.
Belanda adalah salah satu negara yang cukup maju dalam penerapan teknologi pertanian.
"Kami mengunjungi beberapa tempat di Indonesia yang cocok, baik dari sisi pasar ataupun lokasi pembangunan greenhouse. Dan hari ini (kemarin, Red) kami sangat senang sekali berkunjung ke Kadin Jatim bertemu dengan sejumlah pihak di Jatim yang terkait dengan pertanian yang bisa membantu kami untuk mencari partner ataupun tempat yang cocok untuk membuat proyek baru," lanjut Lennart Knot.
Ada beberapa pilihan bentuk kerja sama yang akan dilakukan, bisa dalam bentuk supplier, customer atau partner pemasaran dan investasi pertanian utamanya untuk komoditas hortikultura, yaitu sayur dan buah seperti tomat, timun, atau paprika.
"Sebetulnya kami cari dalam semua kategori tersebut. Dan kunjungan ini adalah yang pertama kali, beberapa pihak sudah memberikan kontak dan informasi yang nanti akan dilanjutkan pada meeting atau pertemuan lebih lanjut," tandasnya.
Ia menegaskan, Jatim menjadi salah satu pilihan karena Jatim adalah wilayah yang pasarnya cukup besar, jumlah penduduk sangat besar dan menjadi pintu masuk ke Indonesia timur.
Apalagi saat ini sudah ada jalan Tol Trans Jawa sehingga distribusi dari Jatim ke Jawa Tengah dan Jawa Barat cukup mudah.
"Untuk nilai investasi, akan kami sesuaikan dengan ukuran dan teknologinya, tetapi kurang lebih Rp 50 miliar untuk satu project," ujar Lennart Knot.
Principal Advisor GMBS Business Support, Maarten Smit menambahkan, saat ini pihaknya membantu Foodventures melakukan pemetaan pasar hortikultura di Indonesia, khususnya hortikultura yang ditanam di greenhouse.
Hasil riset yang dilakukan menunjukkan bahwa Jatim menjadi pasar yang cukup bagus untuk budidaya sayur, utamanya Malang.
Sementara Surabaya adalah kota kedua terbesar di Jawa setelah Jakarta, baik dari sisi jumlah penduduk ataupun konsumsi dan permintaannya.
Daya beli masyarakat juga cukup tinggi untuk menerima produk sayur yang bermutu.
"Kita juga sudah observasi di Jabar, ada keinginan dari konsumen untuk meningkatkan keamanan pangan. Jadi ada produk yang ada residu pestisida,” terang Maarten Smit.
“Kita ingin atasi tantangan yang ada di situ untuk menyediakan makanan yang aman dan rasanya lebih enak, teksturnya cocok serta menarik di pasar modern, ritel supermarket hypermarket serta hotel, restoran dan kafe (Horeka)," imbuhnya.
Ia menegaskan, tantangan di Indonesia dan di Jatim adalah kontinuitas produk hortikultura di pasar karena tergantung musim.
Dan greenhouse dari Foodventures menjadi solusi karena bisa memproduksi makanan sehat sepanjang tahun untuk masyarakat.
"Good management practices dan good agriculture practices adalah kunci," tegasnya.
Menanggapi keinginan tersebut, Ketua Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan, ini adalah peluang untuk perkembangan pertanian di Jatim dan juga peluang bagi pengusaha dan petani di Jatim untuk bisa belajar teknologi greenhouse dan hidroponik dalam praktik menanam komoditas hortikultura, seperti tomat, timun dan paprika.
"Tentunya pelung bagi pengusaha di Jatim untuk bisa bekerjasama. Mereka dari Belanda ini terbuka, bisa investasi, bisa sewa lahan atau lainnya,” kata Adik.
“Monggo teman-teman di Jatim. Bisa memanfaatkan peluang ini," tambahnya.
Ia mengatakan, teknologi greenhouse dan hidroponik memang terbilang mahal untuk jangka pendek.
Tetapi jangka panjang, lebih menarik sebab produk yang dihasilkan akan lebih higienis dan produksi lebih pasti sebab tidak mengenal musim, sepanjang tahun.
Terkait potensi pasar hortikultura hidroponik dalam negeri menurutnya cukup besar, sehingga tahap awal akan difokuskan ke pasar dalam negeri.
"Apalagi komoditas sayuran hidroponik miliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding komoditas pertanian yang ditanam dengan teknologi yang lain," tambahnya
Proyek ini akan menjadi proyek percontohan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa teknologi hidroponik jauh lebih sehat dan lebih efisien karena nutrisi yang diberikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
"Penggunaan teknologi hidroponik untuk menghindari iklim dan hama karena saat ini perkembangan hama terus menerus. Sehingga jangka panjang cukup efisien," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari