Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Penjual Cangkang Ketupat Keluhkan Pembeli Tak Sebanyak Tahun Lalu

Rahmat Sudrajat • Selasa, 16 April 2024 | 14:05 WIB
Penjual cangkang ketupat menjajakan dagangannya di sekitar Pasar Keputran, Surabaya.
Penjual cangkang ketupat menjajakan dagangannya di sekitar Pasar Keputran, Surabaya.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Sudah menjadi tradisi tahunan saat lebaran memasuki hari ketujuh masyarakat akan merayakan lebaran ketupat dengan membuat ketupat sayur dan membagi-bagikannya ke tetangga dan saudara.

Menjelang lebaran ketupat biasanya penjual cangkang ketupat akan menjamur di kawasan dekat pasar.

Seperti di sekitar Pasar Keputran, Surabaya ditemui banyak penjual cangkang ketupat.

Penjual musiman ini biasanya mulai berjualan beberapa hari sebelum lebaran ketupat. Kebanyakan pedagang tersebut berasal dari Madura. Tahun ini pedagang mengeluhkan pembeli yang tak seramai tahun lalu.

Maisaroh, salah satu perajin ketupat asal Bangkalan, Madura ini mengaku sejak tiga hari lalu mulai membuka lapaknya di pinggir jalan sekitar Pasar Keputran.

Maisaroh menjual satu ikat yang berisi 10 cangkang ketupat dijual mulai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

Ia juga menjual janur untuk cangkang ketupat. Satu ikat yang berisi 50 janur dihargai Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu.

"Ya agak sepi, nggak seperti tahun lalu. Tapi masih ada pembeli yang mau buat ketupat. Kan ini tradisi setiap tahun setelah seminggu Idul Fitri," ujar Maisaroh.

Ia mengaku, biasanya kurang dua sampai satu hari sebelum lebaran ketupat cangkang ketupatnya dibeli oleh masyarakat yang ingin merayakan lebaran ketupat dengan membuat ketupat yang dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar.

"Ya kalau mendekati lebaran pasti ramai. Mereka biasanya membeli lebih dari 5 sampai 10 ikat, kadang juga beli janurnya saja untuk dibuat sendiri ketupatnya. Tapi sekarang orang beli cuma dua ikat," tuturnya.

Selain membuat cangkang ketupat ia juga membuat cangkang lepet yang biasanya berisi ketan bersama dengan kacang tolo yang menjadi gandengan dari ketupat saat disajikan.

Dalam sehari ia bisa membuat 100-200 cangkang ketupat. Terlihat ia tampak mahir melipat tiap janur menjadi cangkang ketupat.

Janur-janur dari pelepah daun kelapa itu ia dapat dari Madura hingga Lamongan. "Ya biasanya ada yang ngirim, saya tinggal buat dan jual saja," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Fatimah, penjual cangkang ketupat yang juga berasal dari Madura. 

Menurutnya penjualannya tak sebanyak tahun lalu. Penurunannya dia perkirakan hampir seperempatnya.

"Tahun lalu hari begini sudah ramai, ini masih belum. Nggak tau lagi kalau besok (hari ini, Red)," ujarnya. 

Sementara itu, salah satu pembeli, Ajeng mengaku lebih senang membeli janurnya daripada membeli cangkang ketupat yang langsung jadi.

Selain harganya lebih mahal juga membeli janur bisa menghasilkan banyak cangkang ketupat.

"Sekarang kalau beli ketupatnya (cangkang, Red) lebih mahal seikat bisa Rp 15 ribu dapatnya juga sedikit. Kalau beli janurnya saja kan bisa buat sendiri terus lebih banyak juga," tutur Ajeng.

Setiap tahun Ajeng selalu membuat ketupat sebagai tradisi setelah Idul Fitri.

Rencananya ia akan membuat ketupat besok untuk kemudian dibagikan ke kerabat dan tetangga sekitar rumahnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Lebaran Ketupat #madura #cangkang ketupat #surabaya #pasar keputran