SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Momen Ramadan dan Idul Fitri memang selalu menjadi daya ungkit ekonomi bagi berbagai sektor.
Masyarakat akan banyak melakukan belanja untuk membeli berbagai barang kebutuhan liburan.
Pembelian barang-barang baru akan terjadi mendekati hari H lebaran, karena keinginan masyarakat untuk tampil lebih baru dari hari biasanya. Hal itu terjadi hampir di seluruh pelosok Indonesia.
Biasanya masyarakat mulai menyerbu pasar atau pusat perbelanjaan pada minggu kedua Ramadan.
Seperti di Surabaya peningkatan ekonomi untuk pembelian barang maupun benda lebaran juga melonjak.
Menurut pakar ekonomi, Gigih Prihantono, seharusnya geliat ekonomi di surabaya menjelang Idul Fitri atau lebaran mengalami peningkatan, karena daya beli masyarakat cukup tinggi.
Gigih mengaku biasanya masyarakat Surabaya membeli barang untuk hari raya ketika Tunjangan Hari Raya (THR) keluar.
Untuk diketahui THR bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) jika mengacu pada PP Nomor 14 Tahun 2024 tentang Pemberian Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas Kepada Aparatur Negara, Pensiunan, Penerima Pensiun, dan Penerima Tunjangan Tahun 2024, maka akan dicairkan paling cepat H-10 menjelang Idul Fitri.
Sedangkan untuk pencairan THR untuk karyawan swasta diatur dalam Surat Edaran (SE) Nomor M/2/HK.04/III/2024 tentang Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan 2024 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan yaitu H-7 menjelang hari raya Idul Fitri.
"Ada peningkatan, terutama setelah THR pegawai keluar. Biasanya mereka membeli pada sektor yang bisa dikonsumsi dan digunakan, seperti barang dan makanan," kata Gigih, Jumat (29/3)
Gigih menyebut daya beli masyarakat menjelang Idul Fitri lebih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih mengalami pandemi.
"Kalau tahun lalu memang masih recovery dan merangkak. Mungkin tahun ini kalau se-Indonesia peningkatan tidak signifikan belum ke 80 persen," terangnya.
Alasan belum 100 persen pulih, Gigih mengaku karena Indonesia pasca pemilu.
Apalagi masih ada gejolak, meski KPU sudah mengumumkan dan menetapkan hasil pemilu tahun 2024.
"Harusnya sudah stabil. Tapi masih ada gonjang ganjing politik sehingga mempengaruhi kondisi perekonomian di Indonesia. Apalagi potensi-potensi pasca pengumuman pemilu dikhawatirkan masih bisa terjadi," terangnya.
Di Surabaya, Gigih memprediksi kenaikannya hanya 6 persen. Namun hal itu akan mengalami peningkatan jika kondisi politik stabil.
"Di Surabaya akan naik secara ekonomi tapi hanya 6 persen. Jatim juga pasti akan tumbuh secara ekonomi," ujar ekonom dari Unair itu.
Lebih lanjut ia memprediksi sektor jasa, penginapan atau perhotelan, restoran akan tumbuh setelah lebaran.
Sedangkan saat lebaran yang akan mendominasi adalah sektor pariwisata, makanan dan minuman.
Oleh karena itu ia berharap kondisi bangsa ini tetap stabil, terutama pada kondisi politik sehingga perekonomian menjadi lebih baik.
"Harapannya tetap stabil terutama kondisi politik stabil sehingga lebih baik," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari