SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Jawa Timur (Jatim) menjadi salah satu provinsi di Pulau Jawa yang cukup berkembang.
Tak hanya pembangunan infrastruktur, akan tetapi industri, perdagangan dan berbagai sektor perekonomian tumbuh pesat di Jatim.
Kontribusi Jatim baik secara perekonomian maupun fiskal ke nasional juga cukup besar.
Pertumbuhan Ekonomi Jatim triwulan IV-2023 sebesar 4,69 persen year on year (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan III-2023.
Namun demikian, Jatim tetap menjadi kekuatan ekonomi kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi 24,99 persen dan secara nasional berkontribusi sebesar 14,22 persen dari total PDB Indonesia di triwulan IV-2023.
Kepala Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Provinsi Jatim Taukhid mengatakan, investasi di Jatim konsisten mengalami pertumbuhan.
"Pada triwulan IV-2023 nilai investasi tercatat sebesar Rp 45,04 triliun tumbuh 15,78 persen (q-to-q) dan 43,87 persen (yoy) yang terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 24,33 triliun tumbuh 50,19 persen (q-to-q) dan 70,69 persen (yoy), sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 20,71 triliun tumbuh 21,45 persen (yoy), namun terkontraksi -8,77 persen (q-to-q)," jelasnya dalam paparannya tentang perkembangan ekonomi regional Jawa Timur, Minggu (24/3).
Taukhid memaparkan tingkat inflasi Jatim bulan Januari 2024 sebesar 2,47 persen (yoy) namun terjadi deflasi 0,10 persen month to month (m-to-m) dan 0,10 persen year to date (ytd).
"Peristiwa yang mempengaruhi inflasi di bulan Januari antara lain pada makanan, minuman, dan tembakau yang memiliki andil paling tinggi terutama beras karena cuaca yang tidak menentu dan rusaknya jalan menyebabkan kurangnya pasokan beras di sejumlah wilayah," jelasnya.
Sementara itu Kakanwil Bea Cukai Jatim 1 Untung Basuki juga memaparkan capaian penerimaan cukai yang terkontraksi sebesar 18,39 persen (yoy).
"Hal ini merupakan dampak penurunan pemesanan pita cukai HT pada periode Desember 2023 (fasilitas penundaan pembayaran 60 hari)." ujarnya.
Ia menambahkan, produksi rokok sampai dengan Februari 2024 tumbuh sebesar 1,59 miliar batang atau setara 6,4 persen (yoy) dibanding periode yang sama pada 2023.
"Pertumbuhan produksi ini akan berdampak pada realisasi penerimaan cukai pada periode April 2024 karena adanya fasilitas penundaan pembayaran cukai 60 hari," lanjutnya.
Untuk penerimaan Bea Masuk sampai dengan Februari 2024 secara nominal tumbuh 12,43 persen (yoy) dibanding periode yang sama pada 2023. Namun secara capaian penerimaan Bea Masuk terkontraksi sebesar 3,39 persen (yoy). Pertumbuhan penerimaan Bea Masuk disebabkan tumbuhnya devisa impor sebesar 21,05 persen.
Penerimaan Bea Keluar sampai dengan Februari 2024 baik secara nominal maupun capaian terkontraksi 32,92 persen (yoy) dan 68,65 persen (yoy).
Hal ini disebabkan turunnya harga referensi CPO dibanding 2023, dan netto/volume ekspor komoditas yang dikenai Bea Keluar. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari