SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Menjelang Ramadan harga telur ayam dan daging ayam ras terus mengalami lonjakan.
Lonjakan harga tersebut sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Bahkan dua komoditas ini menjadi penyumbang inflasi.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur harga rata-rata untuk komoditas daging ayam ras per Senin (11/3), mencapai Rp 38.600 per kilogram (kg).
Mengalami kenaikan dibadingkan hari sebelumnya yang hanya Rp 38.097 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Lamongan mencapai Rp 45.00 dan harga rata-rata terendah di Kota Malang Rp 32.000.
Kemudian untuk harga rata-rata telur ayam Rp 31.333. Mengalami kenaikan dibandingkan hari sebelumnya yang hanya Rp 30.535 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kota Probolinggo, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bojonegoro Rp 33.000. Sedangkan harga rata-rata terendah di Kota Madiun dan Kabupaten Mojokerto Rp 28.000.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani mengatakan, memang terjadi peningkatan harga daging ayam ras dan telur.
Kenaikan ini selain disebabkan banyaknya permintaan dua komoditas ini jelang Ramadan, juga karena mahalnya biaya pakan, terutama jagung.
"Memang ada kenaikan harga jagung yang cukup luar biasa sampai menembus Rp 8.000 lebih bahkan ada di beberapa wilayah menembus angka Rp 9.000 per kg," ujarnya, Minggu (10/3).
Menurutnya, harga jagung ini merupakan komponen biaya produksi yang cukup besar. Karena dalam komposisi pakan ternak, jagung menempati porsi 50 persen hingga 60 persen.
“Kemudian adanya musim pancaroba ini juga berpengaruh terhadap produktivitas ayam kita sehingga ini berpengaruh terhadap keseluruhan termasuk pada komponen biaya produksi," katanya.
Sebagai gambaran, lanjut Indy, untuk komponen biaya produksi kalau saat ini harga telur naik dan harga ayam naik, biaya komponen terbesar itu ada pada pakan ternak. Selain itu juga pada day old chicken (DOC) atau ayam umur satu hari.
"Termasuk juga harga sekam padi yang dipakai untuk alas kandang pada ayam broiler ini saat ini juga mulai naik. Ini juga menjadi penyumbang biaya produksi cukup tinggi," jelasnya.
Indy menambahkan 70 persen kebutuhan sumber protein pakan ternak didapat dari impor. Menurutnya impor juga bergantung pada kondisi geopolitik dunia.
"Termasuk kondisi perang dunia sangat berpengaruh pada pasokan bahan baku pakan ternak kita. Kalau kita lihat pada tahun 2021, 2022, 2023 ini trennya terjadi penurunan karena adanya perang Ukraina dan Rusia,” ungkapnya.
“Pasokan masuk ke Indonesia terhambat, sehingga produksi feedmill juga stoknya mengalami kekurangan," imbuhnya.
Jika dilihat datanya dari tahun 2022 ke tahun 2023, impor pakan ternak terjadi penurunan. Sehingga ini sangat berpengaruh terhadap biaya produksi.
"Kemudian ditambah lagi jagung sebagai sumber karbohidrat ini harganya cukup melambung tinggi. Kebutuhan jagung kita untuk untuk pakan ternak itu pada tahun 2023 - 2024 sesuai dengan jumlah populasi untuk ayam ras petelur dan ayam ras pedaging ayam kurang lebih 4 juta ton," terangnya.
Dinas Peternakan, lanjut Indy, saat ini juga berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan juga dari Bulog dengan memberikan subsidi kepada peternak. Tujuannya untuk membantu menurunkan biaya produksi.
"Sebagai gambaran pada saat ini biaya produksi untuk ayam broiler itu saat ini kurang lebih mencapai Rp 22.500 hingga Rp 23.000 untuk per kg live bird (hidup). Harga di kandang saat ini kurang lebih Rp 24.000 per kg live bird Kemudian di konsumen rata-rata minggu ini harganya Rp 34. 800," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari