Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Stok Beras Aman, Tapi Harganya Masih Tinggi

Mus Purmadani • Senin, 11 Maret 2024 | 02:42 WIB
Harga beras di sejumlah daerah di Jawa Timur masih tinggi bahkan melebihi HET.
Harga beras di sejumlah daerah di Jawa Timur masih tinggi bahkan melebihi HET.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Meskipun sudah mengalami penurunan, harga beras di Jawa Timur (Jatim) masih tinggi.

Akan tetapi, Bulog Jawa Timur mengklaim stok beras aman pada bulan Ramadan, Lebaran, bahkan hingga enam bulan ke depan. Saat ini Bulog Jatim memiliki stok beras 170 ribu ton.

"Bahkan dalam waktu dekat, segera datang 130 ribu ton beras impor. Jadi beras impor ini diimpor dari beberapa negara. Di antaranya Thailand dan Vietnam," ujar Pimpinan Wilayah Bulog Jatim Ermin Tora, Minggu (10/3).

Ermin menambahkan, untuk harga beras sudah ada tren penurunan. Harga gabah maupun harga beras pada bulan Maret mengalami penurunan meskipun tidak terlalu signifikan. "Ini karena sejumlah daerah sudah mulai panen," katanya.

Lebih lanjut Ermin menambahkan, Bulog Jatim memasifkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di semua lini.

Di antaranya pasar tradisional, ritel modern, serta gerai Rumah Pangan Kita milik Bulog yang sudah banyak tersebar. "Termasuk kerja sama dengan pemerintah daerah," katanya.

Sementara untuk harga beras premium, lanjut Ermin, terpantau masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Menurutnya, HET beras premium Rp 13.900 per kg.

"Kami bekerja sama dengan penggilingan padi di Jatim untuk mendiatribusikan beras premium, agar tidak terjadi kekosongan stok beras di ritel modern. Target kami pertengahan Ramadan bisa sesuai HET," katanya.

Terpisah Pj Gubernur Jatim Adhy bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur merumuskan strategi pengendalian inflasi jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri 1445 H.

“Faktor dominan penyumbang inflasi masih dikarenakan kenaikan harga pangan seperti beras, cabai, bawang putih, telur ayam ras, dan daging ayam ras,” ujarnya.

TPID bersama BI Jatim, lanjut Adhy, mencanangkan Program Sigati (Sinergitas Gapai Inflasi Terkendali) yang merupakan penajaman strategi 4K yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Secara rinci strategi keterjangkauan harga dilakukan melalui operasi pasar murah, gerakan pangan murah, warung tekan inflasi, intensifikasi penyebaran bahan pangan, dan program SPHP.

Kemudian strategi ketersediaan pasokan dicapai dengan sidak ke pasar dan distributor agar tidak menahan stok barang hingga penguatan kelembagaan produsen.

Salah satu bentuk penguatan tersebut dengan skema korporasi petani.
Terobosan ini sebetulnya sudah dilakukan sejak semester lalu untuk konsep programnya.

“Saat ini, pelatihannya sudah berjalan di Jombang dengan 10 gapoktan menggunakan koperasi petani dan nelayan dengan model koperasi multi pihak baik petani pemilik rice mill, kemudian kepala desa dan beberapa komponen lainnya," katanya.

“Penguatan produsen ini juga dimaksudkan untuk memastikan kebutuhan pangan Jatim terpenuhi terlebih dahulu baru didistribusikan ke daerah lain. Sebab, Jatim merupakan lumbung pangan yang menjadi tumpuan bagi 16 provinsi lainnya,” imbuh Adhy.

Strategi selanjutnya ialah memastikan kelancaran distribusi dengan cara mengoptimalkan kerja sama intra provinsi dan memberi bantuan angkutan bahan pangan strategis.

Serta terakhir ialah komunikasi efektif dengan cara mengendalikan ekspektasi inflasi dan mencegah asimetri informasi di masyarakat. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#jawa timur #het beras #harga beras #bulog #impor