SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Timur Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, inflasi Jatim Februari 2024 mengalami peningkatan. Yakni meningkat 0,49 persen secara month to month (m to m).
“Angka inflasi bulanan (m to m) kita di bulan Februari ini memang sedikit lebih tinggi dari angka inflasi nasional yang tercatat 0,37 persen (m to m). Inflasi tertinggi secara bulanan memang terjadi di Kabupaten Sumenep dengan angka 0,70 persen (m to m),” ujarnya dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Timur dalam rangka Pengendalian Inflasi Jelang HBKN Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2024, Jumat (8/3).
“Meskipun secara tahunan inflasi kita 2,81 persen (yoy). Inflasi kita secara tahunan sampai dengan Februari 2024 itu masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5 persen ±1,” imbuhnya.
Erwin mengatakan, peningkatan inflasi di Jawa Timur didorong oleh sektor makanan, minuman dan tembakau. Khususnya beras.
“Berdasarkan data BPS inflasi Jatim secara tahunan (yoy) angkanya memang cukup tinggi yakni 22,41 persen, ini sejalan dengan keterbatasan pasokan akibat mundurnya masa panen raya di tengah menipisnya pasokan dari Bulog dan permintaan yang mulai meningkat mulai Februari,” katanya.
Lebih lanjut Erwin mengatakan, fenomena inflasi jelang Ramadan, dua tahun ke belakang, rata-rata tekanan inflasi satu bulan sebelum Idul Fitri 0,72 persen. Sedangkan setelah Idul Fitri 0,41 persen (m to m).
“Umumnya tekanan inflasi jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) didorong oleh komoditas makanan seperti daging dan telur ayam ras, serta tarif angkutan. Secara historis, beras tidak pernah menjadi penyumbang inflasi. Sehingga fenomena 2024 ini ada kekhususan,” paparnya.
“Karena memang masa panen bergeser, pasokan menipis dan permintaan meningkat. Mundurnya masa panen dan majunya HBKN berdampak pada inflasi,” imbuhnya.
Berdasarkan prognosa dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, produksi beras meningkat.
Jika tahun 2023 produksinya mencapai 7 juta ton maka tahun ini diprediksi 7,45 juta ton.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Bulog terpantau menurun sejak November 2023.
“Berdasarkan pemetaan yang kami lakukan, penurunan CBP Bulog ini menunjukkan korelasi yang kuat terhadap kenaikan harga beras di tingkat konsumen. Ini berpotensi mengganggu stok HBKN yang akan kita hadapi,” ungkapnya.
Selain beras, komoditas lain yang harus diwaspadai berpotensi menjadi pendorong inflasi.
Yakni cabai merah seiring terbatasnya pasokan dan rendahnya masa tanam akibat anomali cuaca.
Daging dan telur ayam ras, seiring dengan kebijakan afkir dini oleh peternak di tengah tingginya harga pakan ternak juga harus diwaspadai.
Kemudian juga minyak goreng karena kenaikan harga crude palm oil (CPO) dan turunnya realisasi Domestic Market Obligation (DMO).
“Tarif angkutan udara yang umumnya mengalami peningkatan jelang lebaran dan setelah lebaran akibat arus mudik yang meningkat, ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” paparnya.
Berdasarkan pemantauan terhadap Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), lanjut Erwin, mayoritas harga Komoditas utama di Jatim memang menunjukkan tren meningkat sampai dengan awal Maret 2024.
“Berdasarkan proyeksi atau perkiraan kami harga ini akan berpotensi terus meningkat sampai dengan April 2024 apabila kita tidak melakukan intervensi dalam jumlah yang cukup,” pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari