Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Segini Penurunan Produksi Padi di Jatim di Awal Tahun

Mus Purmadani • Senin, 4 Maret 2024 | 13:30 WIB
MENURUN: Akibat anomali cuaca produksi padi di Jatim terganggu.
MENURUN: Akibat anomali cuaca produksi padi di Jatim terganggu.

SURABAYA – Adanya El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang berakibat pada produksi pertanian. Termasuk di Jawa Timur (Jatim) sendiri.

Musim tanam di Jatim mengalami kemunduran dan mengganggu produksi padi. Termasuk mengakibatkan penurunan produksi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat luas panen padi pada 2023 mencapai sekitar 1,698 juta hektare. Ini mengalami kenaikan sebanyak 4,87 ribu hektare atau 0,29 persen dibandingkan luas panen padi di 2022 yang sebesar 1,693 juta hektare.

“Produksi padi pada 2023 yaitu sebesar 9,71 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 184,15 ribu ton atau 1,93 persen dibandingkan produksi padi di 2022 yang sebesar 9,53 juta ton GKG,” ujar Kepala BPS Jatim, Zulkipli, Minggu (3/3).

Zulkipli mengatakan, produksi beras pada 2023 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 5,61 juta ton. Mengalami kenaikan sebanyak 106,33 ribu ton atau 1,93 persen dibandingkan produksi beras di 2022 yang sebesar 5,50 juta ton.

“Produksi padi Januari – April 2024 diperkirakan mengalami penurunan sebesar 15,38 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Produktivitas SR I 2024 diharapkan dapat mencapai hasil yang optimal,” ungkapnya.

Lebih lanjut Zulkipli mengatakan, luas panen padi Januari - Desember 2023 mengalami peningkatan sebesar 0,29 persen dibanding Januari – Desember 2022.

“Potensi luas panen Jan-Apr 2024 diperkirakan mencapai sekitar 676,53 ribu hektare atau mengalami penurunan sebesar 15,71 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” katanya.

Menurut Zulkipli, pada tingkat petani harga gabah dengan kualitas Gabah Kering Panen (GKP) pada bulan Februari 2024 naik sebesar 10,67 persen dibanding Januari 2024.

Demikian juga dengan harga gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) mengalami kenaikan sebesar 7,98 persen.

“Di tingkat penggilingan harga beras untuk semua kualitas pada bulan Februari 2024 mengalami kenaikan dibanding Januari 2024. Premium naik sebesar 11,39 persen, medium naik 12,07 persen dan kualitas rendah naik sebesar 11,34 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pangan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya mengungkapkan, pada saat ini kekosongan stok komoditas beras premium di pasar modern atau retail dan kenaikan harga beras secara umum memang tengah menjadi sorotan.

“Kenaikan harga beras ini disebabkan karena produksi padi di Jawa Timur pada bulan Januari yang cukup kecil atau sejumlah 289.971 ton GKG,” jelasnya.

Penurunan produksi itu disebut karena menurunnya luas tanam padi di bulan Oktober akibat dampak cuaca ekstrem panas berkepanjangan sebagai efek dari El Nino.

“Dengan adanya perubahan iklim yang cukup ekstrem ini menyebabkan adanya pergeseran pola tanam dan perubahan pola produksi,” ungkapnya.

Dampak El Nino tahun 2023 menyebabkan kekeringan yang cukup panjang dan berpengaruh pada bergesernya jadwal tanam padi yang biasanya sudah dimulai pada bulan Oktober-November, namun banyak bergeser di bulan Januari dan Februari ketika curah hujan sudah meningkat.

“Pergeseran jadwal tanam ini yang salah satunya mempengaruhi jumlah pasokan beras karena jadwal panen juga ikut bergeser,” katanya.

Selain itu, peningkatan harga beras juga dipengaruhi oleh peningkatan biaya produksi padi. Komponen-komponen yang menyebabkan kenaikan biaya produksi di antaranya adalah kenaikan harga sarana produksi seperti benih dan pestisida, kenaikan biaya tenaga kerja, biaya distribusi antar wilayah, serta penggunaan pupuk non subsidi oleh petani.  

“Dengan berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi, sekarang ini rata-rata petani berusaha tani menggunakan pupuk non-subsidi yang harganya lebih mahal dari harga pupuk subsidi,” tuturnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#beras #jatim #lumbung pangan #produksi padi