SURABAYA – Dua minggu menjelang Ramadan harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan.
Selain beras yang memang tren harganya masih terus naik, harga telur juga mengalami kenaikan.
Jika sebelumnya harga telur di Jawa Timur (Jatim) anjlok, kini jelang Ramadan harganya sudah mencapai Rp 30.000 per kilogram (kg).
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim, harga rata-rata telur ayam Jatim adalah Rp 28.304 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Situbondo Rp 30.333 per kg.
Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Sampang dan Kabupaten Blitar Rp 26.500 per kg.
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun mengatakan, harga telur terus mengalami peningkatan.
Menurutnya, harga telur di tingkat peternak sudah mencapai Rp 27.000.
"Jadi di pasaran Rp 30.000 lebih. Ini karena memang permintaannya meningkat," ujarnya kepada Radar Surabaya, Minggu (25/2).
Menurutnya, meningkatnya harga telur jelang Ramadan ini sudah menjadi siklus tahunan.
"Kalau diamati dari tahun ke tahun naiknya harga telur setiap dua minggu jelang Ramadan, karena permintaan naik akibat umat muslim melakukan megengan (selamatan jelang ramadan). Nanti akan melandai dua hari jelang Ramadan dan naik lagi jelang lebaran," jelasnya.
Meski harga di tingkat peternak mencapai Rp 27.000 per kg, lanjut Rofi, namun hal tersebut belum membuat untung.
Pasalnya, harga pokok produksi (HPP) dari pemerintah Rp 28.400 per kg.
"Apalagi harga pakan jagung saat ini sudah Rp 7.000 ke atas," terangnya.
Naiknya harga telur dikaitkan dengan program pemerintah yakni pasar murah, menurut Rofi tidak membuat peternak untung.
"Kalau mau jujur, ya ini memberatkan peternak. Tapi kan pemerintah tutup mata. Sehingga kita sebagai peternak tidak bisa berbuat banyak. Ya mau bagaimana lagi," pungkasnya.
Kenaikan harga telur juga dikeluhkan para konsumen. Nurul, salah satunya.
Warga Wage, Sidoarjo ini terdampak betul dengan kenaikan harga telur.
Pasalnya, telur adalan bahan baku yang dia gunakan setiap hari sebagai pembuat kue.
“Ya gimana ya kalau harga bahannya naik kalau kita naikkan harga nanti diprotes pembeli. Kalau nggak naik ya memangkas keuntungan kita,” ujarnya.
Setiap harinya dirinya yang menghabiskan 15 hingga 20 kg telur sangat merasakan kenaikan harga.
“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari untuk makan ya nggak terlalu terasa. Tapi kalau seperti saya yang untuk buat kue, misal naiknya Rp 2.000 per kg, sehari saya butuh 20 kg kan bisa dikalikan berapa, Rp 40.000 sendiri. Belum bahan-bahan lainnya yang juga pada naik,” keluhnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari