JAKARTA - Jika dikembangkan dengan serius gim online dapat menyumbangkan devisa bagi negara.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menuturkan, China dan Korea Selatan sudah lebih dulu dalam hal pengembangan gim online.
Kapitalisasi industri gim di China telah mencapai USD 15 juta. "Itu devisa penghasilan buat kita kalau kita punya, bisa meng-create, bisa mengembangkan game online," kata Jerry dikutip dari Antara, Rabu (21/2).
Jerry mengatakan, keberhasilan China dalam mengembangkan gim online, dinilai karena negara tersebut mampu menciptakan nilai tambah dari sebuah permainan.
Sebagai contoh, hampir semua gim dapat diunduh secara gratis. Namun, untuk bisa melanjutkan pada level berikutnya, tidak sedikit yang mengenakan biaya tambahan.
Para pengguna juga disuguhi dengan berbagai fitur berbayar untuk dapat meningkatkan kekuatan ataupun membeli aksesoris permainan lainnya.
Meski harus mengeluarkan biaya tambahan, para pengguna tidak keberatan untuk mengeluarkannya.
Menurut Jerry, hal tersebut berpotensi besar untuk mendapatkan keuntungan, apalagi jika gim online buatan Indonesia digemari oleh pemain dari negara lain.
"China itu USD 15 juta, Korea Selatan USD 7,5 juta. Kenapa bisa begitu? Karena dia menjual servisnya, menjual value, nilai untuk orang bisa ikut mengkapitalisasi," ujarnya lagi.
Presiden Joko Widodo baru saja mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional sebagai upaya memperkuat ekosistem dan industri gim di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan ditunjuk sebagai Ketua Pengarah Tim Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional.
Tim ini juga berisi berbagai pemimpin di kementerian dan lembaga, termasuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Ketua Pelaksana Harian. (ant)
Editor : Nurista Purnamasari