Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Indonesia Terancam Defisit Daging Sapi, Bagaimana Solusinya?

Nurista Purnamasari • Rabu, 21 Februari 2024 | 14:05 WIB
TAK MENCUKUPI: Kebutuhan konsumsi daging sapi nasional tahun ini diproyeksi mencapai 720.375 ton.
TAK MENCUKUPI: Kebutuhan konsumsi daging sapi nasional tahun ini diproyeksi mencapai 720.375 ton.

JAKARTA - Pasokan sapi lokal yang belum mampu memenuhi kebutuhan daging nasional diperkirakan membuat Indonesia defisit daging sapi.

Untuk mengatasi masalah kurangnya pasokan daging tersebut, solusi terbaiknya adalah dengan impor sapi bakalan.

Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Djoni Liano mengatakan, hasil analisis pemerintah pada 2024 mendapati angka konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia sebesar 2,57 kilogram per kapita per tahun.

Adapun jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebanyak 2,79 juta jiwa.

Dengan demikian, kebutuhan konsumsi daging sapi nasional tahun ini diproyeksi sebanyak 720.375 ton.

Di sisi lain, populasi sapi maupun kerbau di Indonesia masih terbatas, yakni sebanyak 11,3 juta ekor sapi dan 470.900 ekor kerbau.

Menurut Djoni, dari jumlah populasi tersebut dan pertimbangan struktur populasi, maka diperkirakan hanya dapat menghasilkan daging sekitar 281.640 ton.

"Berdasarkan neraca kebutuhan konsumsi daging sapi, maka terjadi defisit sebanyak 453 ribu ton atau secara 2,5 juta sapi siap potong," ujar Djoni dalam keterangan resmi, Selasa (20/2).

Defisit daging disebut menjadi tanda stok dan pasokan daging sapi dalam kondisi kritis.

Oleh karena itu, Djoni menegaskan impor sapi bakalan menjadi langkah tepat menutupi kekurangan stok daging sapi di dalam negeri.

"Jika pemerintah tidak melakukan impor ternak sapi bakalan, maka kami memprediksi dalam waktu empat tahun ke depan populasi ternak sapi dan kerbau akan punah," ucapnya.

Djoni mengatakan, kebijakan pemerintah seyogyanya memberikan porsi lebih besar untuk impor sapi bakalan.

Sebab, menurutnya impor sapi bakalan bisa memberikan nilai tambah lebih besar di dalam negeri mengingat adanya proses penggemukan yang dilakukan selama 2-3 bulan.

Adapun seluruh pengusaha sapi potong yang tergabung dalam Gapuspindo, kata Djoni, telah mengantongi persetujuan impor pada 16 Februari 2024.

Para importir tersebut akan memproses impor sapi bakalan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan daging sapi pada Ramadan dan Idul Fitri yang diperkirakan meningkat dua kali lipat.

Berdasarkan data prognosa neraca pangan nasional tahun ini yang dihimpun Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 27 Januari 2024, rencana impor daging sapi bakalan dan kerbau pada 2024 mencapai 389.024 ton. Sementara produksi dalam negeri diperkirakan hanya 422.649 ton.

Sebelumnya, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim Muthowif menyoroti impor daging sapi yang dilakukan pemerintah.

Menurutnya kebijakan tersebut menunjukkan populasi sapi di tanah air termasuk di Jatim sedang tidak baik-baik saja.

"Artinya kalau saat ini stok daging sapi di pasaran aman, karena tertolong adanya impor. Kondisi ini menandakan sapi siap potong di Jatim kurang atau mulai langka, walaupun BPS merilis populasi sapi di Jatim mencapai 5 juta ekor. Ini Dinas terkait harus bisa menjelaskan kondisi sebenarnya," katanya kepada Radar Surabaya.

Meski tidak menunjukkan secara spesifik berapa jumlah sapi lokal siap potong, namun Muthowif memastikan populasinya kurang.

Selain itu dengan adanya daging sapi impor, membuat harga daging sapi lokal ini bersaing menjadi lebih murah.

"Harga daging sapi timbang hidup Rp 50.000 per kilogramnya," pungkasnya. (bis/mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#populasi #daging sapi #impor