SURABAYA – Untuk mengamankan pasokan, tahun ini, pemerintah memutuskan volume impor daging sapi sebesar 145.250,60 ton.
Meskipun dalam penghitungan dan penyusunan neraca komoditas, pemerintah tetap mengutamakan produksi dalam negeri.
"Namun pada saat kebutuhan nasional tidak bisa terpenuhi bersumber dari dalam negeri, terpaksa kita lakukan impor," ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dalam keterangan resmi, Rabu (7/2) lalu.
Angka itu diputuskan berdasarkan hasil penghitungan ulang volume impor daging sapi konsumsi reguler.
Namun volume tersebut belum termasuk volume impor daging sapi dan daging kerbau beku penugasan pemerintah kepada BUMN pangan.
Arief menjelaskan, berdasarkan hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) pada 13 Desember 2023, dilakukan penetapan kebutuhan impor daging sapi untuk konsumsi reguler.
Selanjutnya secara terperinci, mekanisme penghitungan ulang alokasi volume per kode Harmonized System (HS) per perusahaan terbagi ke dalam empat tahap.
"Tahap pertama, penghitungan alokasi volume per HS berdasarkan pembobotan 55 persen dan 45 persen dan kuota impor 2024 sebesar 145.251 ton,” kata Arief.
“Lalu tahap kedua dilakukan penghitungan alokasi volume per kode HS per pelaku usaha berdasarkan pembobotan 55 persen dengan dasar realisasi impor 2 tahun terakhir," imbuhnya
Kemudian, dilanjutkan tahap ketiga. Yaitu, penghitungan alokasi volume per kode HS per pelaku usaha berdasarkan pembobotan 45 persen terhadap pengajuan kebutuhan 2024.
Sementara, pada tahap keempat berupa penghitungan alokasi volume final impor daging lembu konsumsi reguler dalam bentuk akumulasi perhitungan tahap 2 dan 3 sebelumnya.
"Jadi hasil penghitungan ulang volume impor daging lembu konsumsi reguler 2024 sebesar 145.250,60 ton. Dari total pengajuan rencana kebutuhan yang diajukan para pelaku usaha sejumlah 462.011,14 ton," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim Muthowif mengatakan, impor daging sapi menunjukkan populasi sapi di tanah air termasuk di Jawa Timur (Jatim) sedang tidak baik-baik saja.
"Artinya kalau saat ini stok daging sapi di pasaran aman, karena tertolong adanya impor. Kondisi ini menandakan sapi siap potong di Jatim kurang atau mulai langka, walaupun BPS merilis populasi sapi di Jatim mencapai 5 juta ekor. Ini dinas terkait harus bisa menjelaskan kondisi sebenarnya," katanya kepada Radar Surabaya, Senin (12/2).
Muthowif mengatakan, sejak September 2023, Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya menerima pemotongan sapi Brahman Cross (BX), yang merupakan impor dari Australia.
Apalagi sapi yang dipotong itu kisaran 20 sampai 30 ekor sapi per hari.
Menurutnya, ini sudah masuk pada tata niaga perdagangan antar provinsi, jadi harus ada surat maupun komunikasi dengan dinas terkait.
"Apakah surat rekomendasi masuk sapi ke Surabaya ini ada atau tidak?," tegasnya.
Meski tidak menunjukkan secara spesifik berapa jumlah sapi lokal siap potong, namun Muthowif memastikan populasinya kurang.
Selain itu dengan adanya daging sapi impor, membuat harga daging sapi lokal ini bersaing menjadi lebih murah.
"Harga daging sapi timbang hidup Rp 50 ribu per kilogramnya. Menurun ini, terdampak impor juga," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari