SURABAYA – Harga telur ayam memang masih tinggi dan belum mengalami penurunan.
Berdasarkan data Siskaperbapo Jatim per Kamis (8/2), harga telur masih di angka Rp 26.172 per kilogram (kg), naik dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar Rp 26.113 per kg.
Meskipun harga telur masih tinggi akan tetapi belum membuat untung peternak. Justru mereka merugi.
Mahalnya harga pakan ternak terutama jagung membuat banyak peternak ayam petelur yang gulung tikar. Harga jual telur belum sebanding dengan ongkos produksi.
Pemerintah diharapkan bergerak cepat mengambil solusi konkret menekan harga pakan ayam.
Hal tersebut disampaikan praktisi agribisnis Jawa Timur yang juga peternak ayam petelur HM Arum Sabil.
Menurutnya, harga telur dan biaya produksi yang tidak seimbang lantaran harga jagung yang mahal inilah membuat peternak menjerit.
"Harga jagung saat ini hampir mencapai Rp 10.000 bahkan ada juga sudah Rp 12.000, sudah pasti berat bagi peternak," ungkapnya, Kamis (8/2).
Arum mengatakan, biaya produksi ayam petelur per kilogram mencapai Rp 29.500, akan tetapi harga jual dari tingkat peternak Rp 22.500 hingga Rp 23.500.
Menurutnya, peternak tekor (mengalami kerugian) sebanyak Rp 5.000 – Rp 6.000 per kilogramnya.
"Tak sedikit para peternak telur ini menjual barang berharganya untuk menutupi biaya produksi, dan yang paling parah adalah gulung tikar. Ini artinya bencana bagi peternak telur," katanya.
Kendala berikutnya adalah susahnya mendapat jagung impor dari Bulog. Menurut Arum, padahal selama ini peternak bergantung pada jagung impor ini untuk memenuhi produksi telur.
"Harga jagung impor dari Bulog Rp 5.000 per kilogram, sedangkan harga jagung di pasaran Rp 12.000. Artinya ada selisih Rp 7.000. Ini kalau tidak ada yang melakukan pengawasan kan bahaya. Padahal sesuai regulasi, jagung impor ini diberikan untuk kebutuhan para peternak," terangnya.
Arum mengaku, hanya orang-orang tertentu (peternak besar) saja yang bisa mendapatkan jagung impor tersebut.
"Setelah saya melakukan pengecekan (kepada Bulog), ternyata harus ada prosedur dari Dinas Peternakan Kabupaten/Kota setempat, Pemkab/Pemkot setempat, kemudian diusulkan ke Dinas Peternakan Provinsi, lalu ke Kementan dan Bapanas, baru bisa didistribusikan," paparnya.
“Semua ini sudah kami lakukan tapi tidak juga kunjung turun. Jadi ternyata jagung ini yang tidak dikeluarkan dari gudang Bulog ini karena kekhawatiran salah regulasi,” imbuhnya.
Lebih lanjut Arum menegaskan, jika menunggu regulasi yang tidak sinkron tentu para peternak yang dirugikan. "Selain itu jagung yang disimpan terlalu lama juga tidak bagus," katanya.
Arum juga meminta kepada para penegak hukum dan semua pihak agar mengawasi peredaran telur infertil (telur yang gagal tetas) untuk tidak dijual ke masyarakat. Meskipun memang harganya sangat murah.
"Jadi ada indikasi oknum perusahaan-perusahaan yang menyiapkan telur yang gagal tetas itu dijual ke masyarakat. Ini tidak bagus karena telur yang gagal tetas itu tentu didalamnya ada bakteri yang tidak baik bagi tubuh manusia," tegasnya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun.
Menurut pria yang juga peternak ayam petelur di Blitar ini, meski saat ini harga telur sedikit meningkat, namun hal tersebut masih belum seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak.
"Dengan harga jagung di atas Rp 9.000 per kg (di Blitar), kerugian kami Rp 3.000 – Rp 5.000 per kg. Biasanya peternak memiliki minimal 1.000 ekor. Nah kalau per hari menghasilkan 50 kg, maka peternak mengalami kerugian sekitar Rp 250.000 per harinya," katanya.
Rofi mengatakan, perubahan cuaca tidak terlalu signifikan terhadap produksi telur. Menurutnya yang berpengaruh itu ya harga pakan jagung.
"Kalau sekarang sudah Rp 9.000 dan naik lagi tidak menutup kemungkinan banyak peternak yang melakukan afkir dini. Maka dari itu kami berharap pemerintah bisa menstabilkan harga jagung," terangnya.
Diketahui sebelumya Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) telah mendapatkan tugas dari pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk mengimpor jagung pakan sebesar 500 ribu ton secara bertahap.
Impor ini ditujukan untuk mengatasi defisit produksi jagung pakan. Kapal pertama impor jagung pakan di Pelabuhan Teluk Lamong Surabaya sebanyak 20 ribu ton pada November 2023 lalu.
Saat memantau kedatangan kapal pertama impor jagung tersebut Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso mengatakan bahwa jagung pakan impor ini akan segera disalurkan untuk menstabilkan harga pakan di peternak.
"Jagung pakan impor dijual ke peternak sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah untuk meredam kenaikan harga jagung pakan yang saat ini terjadi. Kami sudah mengantongi daftar peternak yang akan mendapat jagung pakan ini," katanya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari