Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Puluhan Produk UMKM Tak Bisa Dijual di Bandara Dhoho Kediri, Ini Alasannya

Nurista Purnamasari • Kamis, 25 Januari 2024 | 14:05 WIB
SARANA PEMASARAN: Bandara Internasional Dhoho Kediri menyediakan tiga stan untuk produk UMKM lokal.
SARANA PEMASARAN: Bandara Internasional Dhoho Kediri menyediakan tiga stan untuk produk UMKM lokal.

KEDIRI – Hadirnya Bandara Internasional Dhoho, Kediri diharapkan dapat mendukung perekonomian Kabupaten Kediri khususnya, dan wilayah sekitar pada umumnya.

Termasuk mendorong pasar dan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri.

Pemkab Kediri memanfaatkan operasional Bandara Internasional Dhoho sebagai kesempatan meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM setempat.

Akan tetapi, setelah dilakukan kurasi oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopusmik) Kabupaten Kediri bersama PT Angkasa Pura 1, puluhan jenis produk UMKM yang tidak layak dikomersialkan di Bandara Dhoho.

Kepala Diskopusmik Kabupaten Kediri Mamiek Amiyati menuturkan, hasil dari kurasi tersebut hanya separo saja produk UMKM yang lolos.

Sisanya dinyatakan tidak bisa dijual di stan bandara yang dibangun oleh Gudang Garam tersebut.
"Saat ini kami terus menyiapkan produk yang yang akan dijual di bandara," tuturnya dikutip dari Jawapos.com, Selasa (23/1).

Sesuai rencana, Bandara Dhoho Kediri menyediakan tiga stan untuk produk UMKM lokal.
Ketiga stan itu disiapkan untuk produk UMKM dari total 13 daerah Mataraman.

Untuk menentukan produk yang layak dijual di Bandara Dhoho, Diskopusmik melakukan kurasi produk bersama dengan PT Angkasa Pura 1.

Total, ada 140 produk yang dikurasi. Semua itu terdiri atas makanan dan minuman (mamin), craft atau kerajinan tangan, serta produk olahan kopi.

"Untuk produk mamin dan olahan kopi hanya diisi dari produk Kabupaten Kediri. Kalau untuk craft diisi UMKM dari 13 daerah Mataraman," lanjutnya.

Dari hasil kurasi, ternyata hanya ada sekitar 70 produk mamin yang bisa dijual di bandara.
Indikator tidak lolosnya produk UMKM Kediri tersebut, kata Mamiek karena kemasan yang kurang memadai.

Selain itu, di kemasan tidak tertera tanggal kedaluwarsa, daftar kandungan produk, dan masih banyak persyaratan lain yang masih belum dipenuhi. "Tapi kami memberi tenggat waktu agar mereka bisa memperbaiki," tuturnya.

Selain produk mamin, kemarin juga sudah dipilih 10 produk kopi yang akan dijual di Bandara Dhoho.

Meski demikian, Mamiek menuturkan jumlahnya bisa berubah saat nanti bandara beroperasi.

Sedangkan untuk craft, Mamiek masih belum mengetahui dengan detail jumlah produk yang akan dijual. Karena proses kurasi masih terus berlangsung. "Untuk craft kurasi baru dilakukan kemarin. Jadi masih perlu waktu," paparnya.

Mamiek menegaskan, para pelaku UMKM mendapatkan tempat istimewa di Bandara Dhoho Kediri.
Hal ini dikarenakan stan UMKM akan dibebaskan dari biaya sewa di enam bulan pertama operasional. Berbeda dengan stan lain pada umumnya yang harus membayar sewa sejak awal.

Terpisah, Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Kediri Sukadi mengatakan bahwa kurasi dilakukan karena produk yang dijual di bandara harus memiliki kualitas bagus supaya pengunjung tertarik untuk membeli produk.

"Sekarang disiapkan agar saat bandara beroperasi nanti benar-benar sudah siap," tandas Sukadi. (jpc/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#angkasa pura 1 #umkm #kediri #bandara internasional dhoho