Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Prospek Industri Baja Nasional Positif, Apa Faktor Pendorongnya?

Nurista Purnamasari • Senin, 8 Januari 2024 | 02:25 WIB
TUMBUH: Pasar baja nasional tak hanya datang dari permintaan dalam negeri saja, akan tetapi juga pasar ekspor.
TUMBUH: Pasar baja nasional tak hanya datang dari permintaan dalam negeri saja, akan tetapi juga pasar ekspor.

SURABAYA – Di tahun 2024 konsumsi baja nasional diperkirakan akan mencapai 18,3 juta ton atau tumbuh sebesar 5,2 persen mengikuti tren pertumbuhan konsumsi sepanjang 2020-2023 setelah pandemi Covid-19. Pertumbuhan konsumsi baja nasional ini ditopang oleh berbagai kondisi yang menjadi pendorong permintaan baja.

Dalam laporan Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), antara lain pertumbuhan baja global, pertumbuhan ekonomi nasional, belanja infrastruktur pemerintah, pertumbuhan sektor properti, pertumbuhan sektor industri pengguna baja otomotif, elektronik, dan peralatan rumah tangga.

Chairman IISIA Purwono Widodo mengatakan, pada tahun 2045 kebutuhan baja Indonesia diperkirakan mencapai 100 juta ton.

Pada tahun tersebut, Indonesia memiliki visi untuk menjadi negara maju dengan kekuatan ekonomi terbesar nomor empat di dunia.

Seiring dengan pertumbuhan perekonomian nasional, khususnya untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045, industri baja nasional juga akan terus meningkat pesat.

Konsumsi baja per kapita Indonesia saat ini sekitar 60 kg per kapita per tahun.
Jauh tertinggal dari Korea Selatan yaitu 988 kg, Tiongkok 646 kg, Jepang 443 kg, dan Amerika Serikat 279 per kapita.

Konsumsi Indonesia bahkan tertinggal dibandingkan dengan konsumsi baja per kapita negara tetangga ASEAN, seperti Malaysia sebesar 210,5 kg, Thailand 233,3 kg, dan Singapura 273,5 kg.

“Dari sisi produksi, Indonesia saat ini baru memproduksi baja kasar sebanyak 14,4 juta ton, jauh tertinggal dari dari Tiongkok 1.018 juta ton, India 125,3 juta ton, Jepang 89.2 juta ton, Amerika Serikat 80,5 juta ton, Rusia 71,5 juta ton, dan Korea Selatan 65,8 juta ton,” jelasnya.

Sementara dalam proyeksi jangka pendek World Steel Association (WSA) memperkirakan konsumsi baja global pada tahun 2023 tumbuh sebesar 1,8 persen menjadi 1.814,5 juta ton.
Dan konsumsi baja dunia pada tahun 2024 akan tumbuh lebih lanjut sebesar 1,9 persen menjadi 1.849,1 juta ton.

WSA memberikan catatan bahwa konsumsi baja dunia akan bergantung pada perkembangan konsumsi baja Tiongkok yang mencapai lebih dari 50 persen konsumsi baja global.

Pertumbuhan permintaan baja global akan terus berlanjut di sebagian besar wilayah dunia pada tahun 2024 dengan konsumsi global meningkat sebesar 20-30 juta ton dibandingkan tahun 2023.

“Pertumbuhan permintaan didorong oleh menguatnya pasar India dan Asia Tenggara, pemulihan yang kuat di Turki, dan pertumbuhan moderat di Eropa, Amerika Serikat, dan Brasil,” terangnya.

Permintaan baja di Tiongkok akan beralih dari sektor properti yang sedang kesulitan menuju manufaktur dan energi terbarukan, sehingga produksi baja Tiongkok akan sedikit mengalami penurunan menjadi di bawah 1 miliar ton, demikian menurut proyeksi Fitch Rating.

Bagi industri baja nasional, pertumbuhan pasar Tiongkok memegang peranan penting, mengingat Tiongkok merupakan pasar terbesar bagi produk baja nasional sekaligus sumber impor terbesar.

“Sejak 2018 Tiongkok merupakan tujuan utama ekspor produk baja nasional yang terus mengalami pertumbuhan, diikuti oleh Taiwan, India, Filipina dan Malaysia,” tulis IISIA dalam laporannya dikutip, Minggu (7/1).

Sampai dengan Oktober 2023, mengikuti tren tahun-tahun sebelumnya, Tiongkok tetap menjadi negara tujuan ekspor produk baja terbesar bagi Indonesia, yakni mencapai 8,1 juta ton.
Angka ini meningkat signifikan sebesar 20,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022.

Ekspor ke Tiongkok ini mencapai 55 persen diikuti Taiwan 8 persen, India 5 persen, Vietnam 4 persen, Filipina 3 persen dan lainnya 25 persen.

“Di sisi lain, Tiongkok juga merupakan sumber impor produk baja terbesar bagi Indonesia,” imbuhnya.

Pada periode 2018-2022, Tiongkok merupakan sumber utama impor baja ke Indonesia, diikuti oleh Jepang, Oman, Korea Selatan, Rusia dan Afrika Selatan.

Sampai dengan Oktober 2023, Tiongkok tetap menjadi negara sumber impor produk baja terbesar bagi Indonesia pada tahun 2023 dengan jumlah mencapai 3,35 juta ton atau meningkat signifikan sebesar 28,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Produsen baja nasional perlu mencermati perkembangan potensi pasar ekspor di luar Tiongkok untuk dapat meningkatkan kinerja ekspor, seperti halnya Taiwan, India, dan negara-negara lainnya di kawasan ASEAN dan Uni Eropa,” tutur Purwono.

Dengan memperhatikan proyeksi baja global, khususnya Tiongkok, dan perkembangan sektor industri pengguna baja nasional, maka IISIA memproyeksikan konsumsi baja nasional (Apparent Steel Consumption-ASC) pada tahun 2024 akan tumbuh sebesar 5,2 persen, sesuai tingkat pertumbuhan rata-rata periode 2020-2023, menjadi 18,3 juta ton.

“Produksi dan ekspor diperkirakan akan tetap tumbuh sesuai dengan CAGR 2020-2023 yaitu masing-masing 5,2 persen dan 18,6 persen sehingga akan mencapai 15,9 dan 7,1 juta ton,” jelas Purwono.

Pemerintah telah menetapkan dalam APBN bahwa pada tahun 2024 pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,2 persen lebih rendah dari sasaran tahun 2023, yakni 5,3 persen.

Alokasi dana infrastruktur tahun 2024 meningkat menjadi Rp 423 triliun dari Rp 392 triliun tahun atau naik sebesar 7,9 persen.

Purwono menambahkan, pendorong terkuat sektor konstruksi adalah proyek-proyek pemerintah yang pada gilirannya mampu memicu proyek-proyek lain di sekitarnya.

“Setidaknya terdapat 41 proyek prioritas strategis dengan total dana indikatif USD 426 miliar hingga tahun 2024,” imbuhnya.

Meskipun tahun 2024 merupakan tahun politik, beberapa ahli properti memperkirakan bahwa sektor properti akan tumbuh di kisaran 3-5 persen pada tahun 2024.

Hal ini terutama didukung kebijakan pemerintah untuk memberikan Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dalam pembelian properti.

Selain itu keringanan uang muka atau down payment (DP) atas properti dan promo penerapan suku bunga KPR subsidi yang ditawarkan para developer juga turut mendorong permintaan. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#nasional #baja #ekspor #IISIA #permintaan global