Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Impor Bukan Kunci Stabilisasi Harga Beras, Apa Solusinya?

Nurista Purnamasari • Jumat, 5 Januari 2024 | 16:16 WIB
HARGA MASIH TINGGI: Guna menstabilkan harga beras butuh kebijakan yang tepat agar efektif.
HARGA MASIH TINGGI: Guna menstabilkan harga beras butuh kebijakan yang tepat agar efektif.

JAKARTA – Masih tingginya harga beras hingga menjadi kontributor utama inflasi sealama beberapa bulan ini memang patut jadi perhatian dan dicarikan solusi.

Peneliti Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Eliza Mardian memberikan masukan terkait kunci utama untuk stabilisasi harga beras.

Yakni melalui kebijakan holistik dengan didukung data pertanian yang valid.

“Ini yang harus menjadi perhatian. Menerapkan kebijakan holistik dapat memperbaiki kesejahteraan petani. Dengan demikian produksi akan meningkat karena petani berminat menanam selama menguntungkan,” kata Eliza dikutip dari Antara, Jumat (5/1).

Menurutnya, impor seharusnya tidak menjadi jalan pintas ketika terjadi kekurangan produksi dalam negeri.

Melainkan perlunya evaluasi kebijakan hulu hingga ke hilir agar petani tetap produktif dan harga beras terjangkau di tingkat konsumen.

“Semestinya kebijakan stabilisasi harga dengan impor ini jangan selalu dijadikan shortcut jika terjadi kekurangan produksi dalam negeri, melainkan menerapkan kebijakan holistik yang dapat memperbaiki kesejahteraan petani,” katanya.

Eliza mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras disebabkan oleh faktor penawaran dan permintaan.

Ia menilai kebijakan instan pemerintah yang rencananya akan impor 2 juta ton beras untuk 2024 kurang tepat, karena Bulog sudah memiliki cadangan beras 1,6 juta ton.

Selain itu, menurut dia, Bulog tidak akan maksimal menampung gabah atau beras petani karena keterbatasan gudang Bulog yang belum bisa menampung lebih dari tiga juta ton.

Dia menuturkan kebijakan impor ditetapkan bukan berbasis kebutuhan.

Jika digunakan untuk menutupi kekurangan produksi, kata dia, semestinya impor menunggu terlebih dahulu hingga ada hasil panen raya.

Eliza memberikan contoh kondisi penurunan produksi yang bukan hanya terjadi tahun ini, tetapi juga pada periode El Nino sebelumnya.

Ia menilai perlunya mitigasi yang lebih baik terhadap faktor cuaca seperti El Nino dengan memahami pola-pola yang biasa terjadi.

Ia menuturkan, seharusnya Indonesia bisa melihat dari pengalaman China, yang mampu menjaga produktivitas meski diadang El Nino.

Hal ini memungkinkan China untuk memenuhi kebutuhan domestik dan bahkan melakukan ekspor ke Afrika.

“Agar harga pangan relatif stabil, maka produksi harus dijaga dengan harga yang berkeadilan bagi produsen sehingga minat menanamnya terjaga,” ucap Eliza.

Selain itu, perlunya dukungan basis data pertanian yang kuat, terutama data yang valid dan terbaru untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi stok pangan di dalam negeri.

Dia menekankan bahwa data pertanian dibutuhkan tidak hanya di tingkat produksi tetapi juga sepanjang rantai pasok komoditas pangan.

Struktur pasar pertanian yang cenderung oligopsoni dan oligopoli, kata dia, dapat menciptakan asimetris informasi yang merugikan konsumen dan petani.

Kemudian, ketiadaan data dapat dimanfaatkan oleh para rent seeker untuk keuntungan pribadi, memicu spekulasi yang dapat meningkatkan harga secara artifisial dan mengakibatkan inflasi.

“Ini bisa menyebabkan asimetris informasi yang dapat merugikan konsumen dan petani sebagai produsen. Ketiadaan data mengundang para rent seeker untuk mengambil keuntungan, memicu upaya spekulasi sehingga harga naik,” kata Eliza. (ant)

Editor : Nurista Purnamasari
#stabilisasi harga #beras #bulog #impor