SURABAYA – Setelah sempat terus melonjak dan harganya tak kunjung turun, kini harga cabai dan telur mulai turun.
Karena stok produksi yang mengalami peningkatan, menjelang momen Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru), harga telur dan cabai akhirnya turun.
Berdasarkan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) harga harga rata-rata cabai rawit per Sabtu (23/12), Rp 73.972 per kilogram (kg). Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Sampang Rp 90.000.
Sedangkan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp 58.666.
Untuk di sejumlah pasar besar di Surabaya, harga komoditas ini pada kisaran Rp 59.000 hingga Rp 69.000 per kg.
Untuk Pasar Wonokromo Rp 59.000, Pasar Genteng Rp 60.000, Pasar Tambahrejo Rp 64.000. Pasar Keputran dan Pucanganom Rp 65.000, serta Pasar Soponyono Rp 69.000.
Untuk harga cabai merah, harga rata-rata Jawa Timur adalah Rp 61.098. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Tuban Rp 80.000. Sedangkan harga rata-rata terendah di Kabupaten Sampang Rp 50.000.
Di sejumlah pasar besar di Surabaya, harga komoditas ini pada kisaran Rp 54.000 hingga Rp 60.000 per kg. Untuk Pasar Tambahrejo Rp 54.000, Pasar Pucang Anom Rp 55.000, Pasar Wonokromo Rp 56.000, Pasar Keputran Rp 57.000, Pasar Soponyono Rp 58.000 dan Pasar Genteng Rp 60.000.
Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko mengatakan, turunnya harga cabai saat ini disebabkan stok yang melimpah. Menurutnya kawasan sentra cabai di Kediri, Ngawi dan Lumajang sedang panen raya.
“Untuk harga cabai rawit merah di tingkat petani saat ini Rp 62.000. Sedangkan harga cabai besar Rp 40.000,” katanya kepada Radar Surabaya.
Untuk komoditas lain yang mengalami penurunan harga adalah telur ayam. Harga rata-rata telur ayam di Jatim adalah Rp 25.835 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Gresik, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, Kota Probolinggo Rp 27.000. Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp 24.000.
Untuk harga di sejumlah pasar besar di Surabaya Rp 26.000 hingga Rp 27.000 per kg. Untuk Pasar Genteng, Pasar Keputran, Pasar Pucanganom dan Pasar Tambahrejo Rp 26.000. Pasar Wonokromo Rp 27.000 dan Pasar Soponyono Rp 28.000.
Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar Rofi Yasifun mengatakan turunnya harga telur ini disebabkan banyak beredarnya telur ayam breeding yang dijual lebih murah.
“Sehingga mau tidak mau peternak harus menjual telur dengan harga yang murah ketimbang kalau lama-lama disimpan busuk,” katanya.
Diketahui, telur ayam hatched egg (HE) atau yang lebih dikenal dengan telur ayam breeding ini sebenarnya dilarang dijual di pasar oleh Kementerian Pertanian (Kementan).
Telur HE merupakan telur yang berasal dari ayam perusahaan pembibitan atau breeding. Larangan menjual telur HE diatur dalam Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.
Rofi mengatakan, patokan peternak telur ayam Jatim adalah pasar Jawa Barat. Karena menurutnya agen-agen besar ini berada di Jawa Barat.
“Nah mereka bilang kalau harga telur breeding ini sekitar Rp 21.000. Sehingga kita diberi harga kandang Rp 21.500. Nah mau tidak mau kita harus menjual dengan harga segitu,” katanya.
Rofi berharap kalau ada tindak tegas dari aparat penegak hukum terkait peredaran telur breeding ini. Harga Pokok Produksi (HPP) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 22.000 – Rp 24.000 per kg di tingkat peternak. “Ini artinya harga telur dijual dibawah HPP,” pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari