Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Jatim Masih Alami Perlambatan Ekonomi, Apa Strategi Mengatasinya?

Mus Purmadani • Selasa, 19 Desember 2023 | 15:30 WIB
PUNYA POTENSI: Meskipun pasar ekspor lesu, namun pasar domestic Jatim masih bisa dipacu.
PUNYA POTENSI: Meskipun pasar ekspor lesu, namun pasar domestic Jatim masih bisa dipacu.

SURABAYA - Terkena dampak kondisi ekonomi global atau geopolitik, perlambatan ekonomi Jawa Timur (Jatim), terutama di pasar ekspor masih akan berlanjut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur Doddy Zulverdi mengatakan, namun, dari sisi pasar domestik, Jatim masih memiliki potensi yang cukup besar.

Hal itu dapat dilihat dari indeks keyakinan konsumen Jatim per November 2023 sebesar 136,49. Serta akan membaiknya sektor pertanian sejalan dengan prediksi cuaca atau setelah berakhirnya El Nino.

"Dari faktor cuaca, El Nino akan berakhir dan dampak negatifnya selama ini akan berkurang sehingga sektor pertanian lebih positif produksinya dan inflasi bisa ditekan. Dari sisi kegiatan konsumsi, terutama rumah tangga juga sudah bisa kita lihat. Meski global terganggu tetapi konsumsi rumah tangga membaik," katanya, Senin (18/12).

Untuk itu, lanjut Doddy, pemerintah harus bisa menjaga daya beli masyarakat agar inflasi 2024 terkendali sesuai target 2,5 persen +- 1 persen.

Begitu juga dengan kegiatan ekonomi berbasis UMKM yang secara langsung akan berdampak pada sektor perbankan perlu terus digencarkan agar perekonomian Jatim bisa tumbuh antara 4,7 persen sampai 5,5 persen pada 2024.

“Perekonomian kita akan dipengaruhi konsumsi rumah tangga, dan kami punya ekspektasi dari pemerintah/pemda agar mengoptimalkan APBD-nya untuk belanja daerah yang ada. Jangan sampai tidak dioptimalkan supaya mendorong kegiatan ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat kinerja ekspor non migas Jatim di sepanjang Januari - November 2023 mencapai USD 18,50 miliar atau mengalami penurunan -12,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 21,08 miliar.

Kepala BPS Jatim Zulkipli menuturkan, di sepanjang tahun ini, pangsa ekspor Jatim dikontribusi oleh China USD 2,71 miliar, Amerika Serikat USD 2,56 miliar, Jepang USD 2,45 miliar dan Swiss USD 0,79 miliar, serta negara-negara Asean USD 3,15 miliar dan Uni Eropa USD 1,32 miliar.

“Di sepanjang tahun ini hampir seluruh sektor usaha yang mengalami penurunan ekspor, seperti barang dari sektor pertanian turun -21,36 persen, industri pengolahan -11,74 persen, dan pertambangan turun -20,91 persen dibandingkan periode sama tahun lalu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, secara bulanan, ekspor non migas Jatim pada November saja tercatat sebesar USD 2,11 miliar atau naik 1,36 persen dibandingkan Oktober 2023 yang sebesar USD 1,99 miliar.

Nilai tersebut pun naik 7,38 persen dibandingkan November 2022 yang sebesar USD 1,97 miliar.

Dari capaian ekspor November 2023, sebanyajk USD 85,50 juta dikontribusi oleh sektor pertanian atau mengalami penurunan -4,35 persen (mtm), tetapi naik 0,30 persen (yoy).

Disusul industri pengolahan USD 1,9 miliar naik 1,48 persen (mtm) atau naik 6,18 persen (yoy), serta pertambangan USD 11,63 juta atau naik 33,91 persen (mtm) atau naik 89,59 persen (yoy).

Golongan barang yang mengalami peningkatan permintaan ekspor seperti perhiasan/permata, tembakau dan rokok, pupuk lemak dan minyak hewani, dan sabun dan preparat pembersih.

Sedangkan golongan barang yang mengalami penurunan permintaan adalah bahan kimia organik, besi dan baja, bahan kimia organik, kertas dan karton, tembaga,” katanya.

Berdasarkan pangsa pasar selama November 2023 yang mengalami peningkatan permimtaan yakni Swiss, India, China, AS, Filipina. Sedangkan pasar yang mengalami penurunan pasar yakni Bangladesh, Vietnam, Taiwan, Jepang, dan Hong Kong. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#jawa timur #perlambatan ekonomi #Dampak Geopolitik