Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Realisasi Impor Belum Maksimal, Harga Gula Bisa tembus Rp 20.000 per Kilogram

Nurista Purnamasari • Minggu, 17 Desember 2023 | 18:35 WIB
STABILISASI HARGA: Impor gula harus direalisasikan secara maksimal secepatnya guna mengendalikan harga di dalam negeri.
STABILISASI HARGA: Impor gula harus direalisasikan secara maksimal secepatnya guna mengendalikan harga di dalam negeri.

JAKARTA – Untuk mencukupi kebutuhan gula, Indonesia masih harus mengimpor gula lantaran produksi dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan yang ada.
Kebutuhan gula di Indonesia sendiri tercatat sekitar 3,2 juta ton. Sementara sepanjang 2023 berjalan, Indonesia memproduksi 2,2 juta ton.

Capaian ini lebih rendah dari tahun lalu yakni 2,4 juta ton. Produksi gula yang menurun tahun ini salah satunya akibat dampak oleh El Nino.

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mencatat saat momen akhir tahun hingga nanti mendekati lebaran permintaan dan harga gula diperkirakan akan terus naik.

Direktur Eksekutif AGI Budi Hidayat mengatakan, impor gula harus direalisasikan secara maksimal secepatnya guna mengendalikan harga di dalam negeri.

Bila realisasi impor terus-menerus mandek, dikhawatirkan stok gula di Indonesia kian menipis dan harga gula melonjak.

"Kemungkinan harga gula bisa mencapai maksimal Rp 20.000 per kilogram pada lebaran 2024, makanya impor perlu direalisasikan," terang Budi beberapa waktu yang lalu.

Adapun untuk saat ini, lanjut Budi, harga gula konsumsi di Indonesia berada di kisaran Rp 17.000 per kilogram.

Impor gula oleh Indonesia sempat mengalami kendala pada tahun ini akibat beberapa faktor. Mulai dari fluktuasi harga gula di pasar global, efek El Nino yang mengganggu produksi gula di tempat asal, hingga volatilitas kurs rupiah.

Dalam catatan AGI, kuota impor raw sugar tahun 2023 berada di kisaran 990 ribu ton. Namun, sampai saat ini baru 50 persen dari total kuota impor yang dapat terealisasi.

Selain itu, terdapat kuota impor white sugar sebanyak 215 ribu ton pada 2023. Angka ini terbagi masing-masing sebanyak 107.500 ton untuk PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) atau ID FOOD.

Sejauh ini, RNI sudah merealisasikan 90 persen kuota impor gulanya, sedangkan PTPN baru 30 persen saja. "Biaya impor memang sempat mahal, sehingga realisasi impor tertahan," ujar Budi.

Budi menyebut, pihak Badan Pangan Nasional (Bapanas) sudah memerintahkan agar para importir segera memenuhi kuota impor gula yang diberikannya sampai Februari 2024 mendatang.

Terlebih lagi, akhir-akhir ini harga gula di pasar global tengah mengalami penurunan, sehingga kegiatan impor semestinya bisa dilakukan dengan biaya yang lebih murah.

Dia menambahkan, saat ini Brazil menjadi produsen gula yang paling aktif menawarkan produknya ke Indonesia. Selain itu, ada India dan Thailand yang selama ini kerap mengekspor gula ke Indonesia.

Namun, impor gula dari India tidak mudah dilakukan karena mereka sedang memprioritaskan hasil produksinya untuk kebutuhan dalam negeri.

"Produksi gula di Thailand pun juga mengalami kendala karena sama-sama terpapar El-Nino, sehingga turut mempengaruhi kegiatan ekspor gula,” pungkasnya. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#harga #gula #impor